Nindita

bagian ke3 kutulis di stasiun kreta pasar senen

Pada cerita bagian kedua, 3 malam berlalu
1. malam pertama menginap di RS Bethesda Yogyakarta, menunggu siang pelaksanaan operasi cesar.
2. malam kedua adalah waktu tunggu bersama kedua anak, menemani istri yg terbaring di ranjang.
3. malam ketiga, nasywa anak pertama dibawa mertua sedangkan Dipta di ruang galilei lantai 2 bareng aku

Pada Malam ketiga ketika visit dokter, aku celetuk kepada dokter bahwa besok boleh pulang, dan ternyata, boleh pulang setelah nanti diganti plester jahitan perut istri.

Lima hari sejak tanggal 6 s.d. 11 Juli 2018, tak sadar terlempar jauh diri pada penghambaan Sang Pencipta, sesampai di rumah mertua
penyadaran dg 3 rakaat. Penuh pertimbangan untuk meninggalkan istri di rumah mertua, aku pun harus sujud untuk membuatkan tekat.

Urung terlaksana dari tantangan terbesar adalah ketika harus menjalani makluk sosial yang cirinya mengabarkan berita kebaikan kepada Sanak famili. aku pun menutup mata dan telinga 👂 dari rasa penerimaan orang menyikapi kelahiran 🍼 bayi ketiga ku.

Tanggal 12 Juli 2018, bayi kembali dirawat di sini, setelah menjalani kunjungan dokter anak dg hasil lab menunjukkan 23 MG, kadar darah nya. istilah Jawa, penyakit kuning, perlu di terapi sinar biru.

Kehidupan ini menunjukkan dan menuntun agar kita tetap teguh dalam membina mentalitas kehidupan. tidak menjadi jumawa, tidak terburu buru, tidak menargetkan berlebih.

Belajar dari perkataan 💬 emha ainun nadjib tentang frekuensi materialistic yg berhimpitan dg kehidupan perlu menjadi inspirasi dalam mengambil sudut pandang penerimaan kelahiran anak.

Beaya kelahiran ditanggung BPJS kesehatan. meskipun istri meminta naik kelas dari yg sebenarnya kelas 1 menjadi kelas VIP, perlu tambahan lebih dari 12 juta, kemudian ditambah dg semalam lagi untuk terapi sinar biru semalam 2.5 juta, ya 15 jutaan. Alhamdulillah terlaksana dengan lancar.

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar