Pulang ke Sleman Jogja

Memori kecil atau kejadian dulu memang menjadi kenangan, seberapa kuat usaha untuk nampak tilas. seberapa sering kita lakukan hal yang sama untuk napak tilas. Usaha yang rutin atau bersifat kadang kadang, suatu usaha yang dimaknai atau hanya sekedar dilakukan.

Suatu istilah ” nguri uri” atau mengapresiasi untuk mengenang peristiwa yang dulu banyak dimaknai orang sebagai peringatan. Misalnya saja dalam budaya Jawa ada kegiatan nyadran, dimana setelah acara bersih bersih makam dilakukan doa bersama dengan membawa makanan untuk dibagikan dan dimakan di tempat pemakaman. Kegiatan nyadran dilaksanakan tiap tahun menjelang bulan ramadhan datang atau bulan syawal.

Jogja sebagai entitas jatidiri, gk tau bener atawa gak tau salah memakai kata “entitas”, penulis hanya ingin menunjukkan jatidiri yang berasal dari jogja. Memang belum mengenal jogja tempo doeloe, hanya merasa diri sebagai orang yg dilahirkan di kota jogja saja.

Di jogja ada tempat yang bernama Sleman, di sinilah rangkaian kejadian atawa peristiwa itu dialami dilaksanakan dan diterima. Selama dua puluh tujuh tahun sebelum akhirnya berlabuh di depok jawa barat.

Panjang jika dirangkai dengan kata kata, tapi yg penulis sampaikan diatas untuk mengantarkan ide kecil bahwa setelah 11 tahun merasa meninggalkan tempat kelahiran, ada kerinduan kondisi sewaktu kecil, kondisi semangat remaja, atau peristiwa peristiwa yang membungkus romantisme hidup di kampung halaman.

Kerinduan itu penulis wujudkan untuk senantiasa menyambangi jogja dengan mengajak anak istri. pada tahun 2016 kurang lebih enam kali, pada tahun 2017 sekitar 5 kali, Pada tahun 2018 sekitar 3 kali pulang dan awal tahun 2019 ini pulang kampung yang pertama.

Tidak banyak yang dilakukan ketika pulang kampung, hanya sekedar bertemu dengan orang tua sesaat, belum mengobati kerinduan sewaktu kecil dan sewaktu remaja. Di sisi lain adalah mengaitkan jiwa anak anak kepada Jogja dan Sleman sebagai tempat tanah leluhurnya.

Pada Hari Sabtu, tanggal 1 Februari 2019 dengan mengendarai mobil avanza veloz yang masih dalam tanggungan bank jateng, pukul 2.30 WIB mulai keluar dari perumahan villa tanah baru. Setelah mengisi bahan bakar pertalite di SPBU ⛽, Rp. 200 ribu diberikan kepada penjualnya, lima orang bersiap meluncur ke Jalan tol menuju ke arah Jogja.

Berawal dari Jalan tol dalam kota Jakarta pada KM 1 sampai dengan KM 385, indikator bahan bakar menandai bahwa telah habis 26,5 Liter pertalite. Gerbang tol Palimanan membayar Rp. 117 ribu dan gerbang tol weleri membayar Rp. 177 ribu.

Sisa bahan bakar di mobil yang menipis mengiringi jalan menyurusi Weleri sampai dengan candiroto. Warung makan di daerah sukorejo menjadi tempat menenangkan diri dari kondisi hujan deras.

Jam 17.30 perjalanan berakhir di Jabung Pandawaharjo Sleman, Rumah mertua, rumah orang tua dari istri penulis, rumah kakek dan nenek anak2 penulis.

Perjalanan yang dimulai jam 02.30 WIB sampai dengan 17.30 atawa 15 jam perjalanan menjadi catatan dalam kepulangan ke Sleman kali ini.

Meski tak banyak yg dapat dikunjungi dan dijumpai tiap kali kepulangan ke Sleman, namun pasti mencatatkan peristiwa untuk dikenang. Misalnya setelah menyambangi Bapak di Imogiri, lanjut ke Pantai Parangtritis. Suatu pantai yang dibumbui cerita mistis “Nyi roro Kidul”

Peristiwa dimana Dipta (anak kedua penulis) mengalami pengalaman pertamanya mengenal ombak dan pasir di pantai Parangtritis. Awalnya Dipta takut tp lama kelamaan menjadi berani untuk bermain bahkan menjadi ketagihan.

Pengenalan anak anak kepada alam yang tidak sempat dilakukan di perantauan Depok Jawa Barat.

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Satu pendapat untuk “Pulang ke Sleman Jogja

Tinggalkan komentar