#kearsipan #kuliaharsip
Meski penulis telah mengenal kearsipan selama tujuh belas tahun, belum tentu membentuk cara pandang kearsipan yang lengkap, tepat, komprehensif, menyeluruh. Mungkin karena cara pandang banyak dipengaruhi faktor y? Faktor apa saja itu?
Faktor pertama adalah pemahaman. Saya kurang tau kalo pemahaman yang bagus diukur dari predikat cumlaude saat kuliah. Atau karena nilai A. Yang penulis alami jarang bisa dapat nilai A xixixi. 😊
Kalo kata sabrang damar mowo panuluh, pemahaman baru terbukti ketika bereksperimen atau menjalani pengalaman.
Tahun 2002 adalah awal mengenal kearsipan melalui ceramah dosen, membaca buku, artikel ilmiah dan peraturan perundangan terkait kearsipan. Sejak saat itu mulai mendapatkan potensi yang akan membentuk cara pandang kearsipan.
Cara pandang kearsipan selama tiga tahun (2002-2005) dibentuk karena pengkondisian pemahaman dengan aktivitas mendengar, mencatat, menuliskan, menjawab pertanyaan dalam mengikuti ujian, praktek kerja singkat, serta penulisan karya ilmiah populer.
Yang masih teringat kala itu bahwa dalam memahami kearsipan dikenal dengan pendekatan Life Cyle Of Records (daur hidup arsip) dan Records Continum Model. Selain itu dapat juga dengan pendekatan Records Management (dinamis) atau Archive Administrative (statis). Begitu juga prinsip pengelolaan arsip yakni original order (aturan asli) dan provenance (asal usul).
Ketertarikan pada arsip dinamis membawa diri untuk menempuh pengalaman dalam beberapa proyek pembenahan dan penataan arsip antara lain Kementerian Luar Negeri, penataan arsip Angkasa Pura I, pembenahan arsip Bank DKI, perencanaan pembenahan arsip Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi pasca tsunami Aceh, survey prospek proyek pembenahan di Kementerian Pertanian (2007-2008).
Adalah rekan kelas semasa kuliah, tyas cahyani yang mengantarkan untuk mendapatkan pengalaman tersebut pada pekerjaan kearsipan di Arsip Nasional RI Cq. Pusat Jasa Kearsipan tahun 2007 s.d 2008. Nasibnya lebih dulu di terima sebagai PNS di instansi tersebut.
Dua tahun menjalani pekerjaan kearsipan dalam jangka tertentu, menarasikan cara pandang arsip sangat terkait dengan produk administrasi sesuai jenjang organisasi dan kontek kewenangan dari organisasi negara.
Hal menarik ketika penataan arsip kemlu (2007), saling tebak dengan bang robi (arsiparis anri) tentang draft klasifikasi kemlu yang sedang di susun oleh tim manual pusat jasa anri. Tebakan itu aku menangkan ketika klasifikasi kemlu kala itu memiliki genre klasifikasi kegiatan.
Sosok almarhum Sauki Hadi Wardoyo (ketua tim) penulis kenal sejak kuliah, mempunyai cara pandang arsip sebagai rekaman transaksi tiap level organisasi meyakinkan tebakanku kala itu. Prinsip provenance diterjemahkan kedalam tiap klasifikasi arsip.
balik maning di topik, yakni cara pandang kearsipan
Setelah pemahaman, pengalaman kerja, ada hal ketiga yang juga dapat merubah atau menggeser cara pandang kearsipan. Apa coba?, yakni habitat pekerjaan sehari hari
Penulis teringat cerita dari Galuh (Lembaga Administrasi Negara) Dia bertanya kepada penulis, apakah menjadi salah jika terdapat perbedaan cara atau sistem penataan di pusat arsip(records center) LAN dengan arsip yang akan dipindahkan(kala itu galuh ditugaskan untuk memindahkan arsip di salah satu unit pengolah)
Pertanyaan diatas merupakan pemandangan bahwa Arsiparis yang ditempatkan di central file ( unit pengolah) bisa jadi memiliki cara pandang yang berbeda dengan arsiparis yang yang ditempatkan di records center (unit kearsipan)