Di malam menjelang balik Depok, Ibu dan Bapak Mertua sudah sibuk untuk menyiapkan bekal dan buah tangan. Bekal di jalan sepeti roti kering cemilan sampai dengan menu makan 🍴🍴🍱 yang dimasak dipersiapkan dengan penuh rasa sayang.

BERAS dan salak dari hasil menanam di lahan sendiri sampai dengan jajanan yang dibeli dari warung dipersiapkan untuk cucu tercinta. Setelah membersihkan raga dengan segarnya air đź’§sumur Jabung, dan lanjut dengan sarapan, jam 09.00 pamitan dari rumah mertua.
8 Juni 2019 jam 10.30 berpamitan dari rumah kakek Wahono untuk melakukan perjalanan kurang lebih 21 jam. Bagi keluarga 👨👧👩👴👵 yang teridiri Nurul, Elin, Nasywa, Dipta, dan rara menjadi perjalanan ketiga di tahun 2019. Perjalanan dari tanah perantauan ke tanah kelahiran.
Kami sebut tanah perantauan karena di Ibukota kita menghabis kan waktu untuk menjalani mata pencaharian, dan tanah kelahiran karena pernah dibesarkan sampai mengajak lulus kuliah.
Laju kendaraan terhenti ketika pesanan temen istri untuk dibawakan intip. Makanan ringan yang diinisiasi dari kerak saat menanak nasi, namun sekarang telah menjadi industri makanan ringan.
Di pusat oleh oleh massugi di Magelang singgah untuk menjalankan empat rakaat sembari menunggu istri belanja makanan titipan.
Dalam perjalanan, istri meminta makan Soto, baru terpenuhi ketika masuk res Area 359, soto kudus tanpa nasi yang dihargai 25.000. Kemudian perjalanan terhenti ketika sudah menempuh 250 kilo meter, tepatnya di rest area 102.
Diselingi tangisan istri karena menahan sakit perut, berhenti juga di rest area 88 dan 52 sebelum menempuh 21 jam perjalanan balek.
Sekitar 6.30 WIB masuk di Perumahan Villa Tanah Baru. Kaki terasa pegel dan mata mulai ngantuk setelah membersihkan dan memarkirkan mobil di garasi.
Cerita đź“– perjalanan mudik yang menjadi rutinitas saja. Tahun 2019 ini telah tiga kali bolak balik ke sleman yogyakarta. Ada di bulan Februari, April dan Mei.