Apakah arsiparis Minder atawa kurang percaya diri dengan jabatan khusus pengelola arsip???? Bagaimana dengan para pembaca yang memiliki jabatan arsiparis?
Meski jabatan khusus pada urusan kearsipan telah dilakukan pembinaan lebih dari 30 tahun dan bidang kearsipan di Indonesia telah berusia 48 tahun, namun bagi pegawai yang menduduki jabatan arsiparis masih terkesan minder dan kurang percaya diri.
Bagi penulis, pekerjaan bidang apapun menuntut sikap pegawai yang dapat menampilkan kesan percaya diri. Namun agak berbeda dengan jabatan arsiparis, tidak jarang jika berkenalan dengan orang baru, dapat dengan lantang menyampaikan jabatan sebagai seorang arsiparis.
Dari pengalaman penulis yang telah lebih dari 10 tahun menduduki jabatan fungsional arsiparis, rasa percaya diri naik dan turun seiring dengan keadaan di sekitar.
Jika kita bandingkan dengan jabatan lain, arsiparis mengesankan sebagai jabatan level bawah khususnya di intansi teknis. Selain dunia pendidikan kearsipan masih berada taraf Diploma tiga, dan perubahan undang undang kearsipan di tahun 2009, iklim pekerjaan misalnya di pemerintah masih melihat kearsipan berada di pemahaman butuh dan tidak butuh.
Sedikit flashback pada tahun 2009, ketika penulis menjalani awal masa kerja di Ditjen Migas bersama dua belas orang teman lainnya. Kala pengenalan ruangan, kita menjalani orientasi ke seluruh unit kerja. Saat itulah mulut ini harus menjawab pertanyaan latar belakang pendidikan.
Teman seangkatan dengan variasi biground pendidikan jurusan teknik kimia (rina, imron, wiyono, yeni) perminyakan ( ira yosi, Risris), geologi (asep), hukum (dewi, vira), administrasi negara (bayu dan dondi), teknik mesin ( urly), dan aku sendiri adalah kearsipan.
Tidak lantang dalam menjawab pertanyaan mengesankan kurang percaya diri, bahkan respon almarhum bapak Naryanto Wagimin ketika mendengar jawabanku, menanyakan kembali dengan kata “keartisan?”
Meski dengan suasana guyon namun sedikit banyak mempengaruhi pembentukan rasa percaya diri. Sebetulnya wajar saja, setelah saya telusuri seluruh latar belakang pendidikan yang dimiliki pegawai Ditjen Migas, saya adalah orang pertama ☝yang memiliki ijazah Diploma tiga kearsipan. Karena ijazah kearsipan, saya dapat bergabung di Ditjen Migas.
Latar pendidikan kearsipan membuka cakrawala wawasan umum para pegawai dan pejabat di Ditjen Migas saat berkenalan dengan saya. Awalnya yang belum tahu menjadi tahu.
Selama sepuluh tahun pula lah, habitat pekerjaan yang memiliki substansi keteknikan, mempengaruhi rasa percaya diri.
Jiwa yang bebas tergelitik untuk konsisten menggeluti bidang kearsipan meski terasa sepi. Meski berakibat perasaan sepi, namun sejauh ini dapat terus mengkampanyekan kearsipan di institusi teknik yang kental dengan kegiatan dan program kerja keteknikan khususnya substansi Migas.
Terpilihnya penulis sebagai arsiparis teladan tingkat nasional untuk kategori arsiparis terampil pada tahun 2014 dan terpilih lagi sebagai arsiparis terbaik tingkat kementerian ESDM tahun 2018, bukan karena sudah tidak minder lagi.
Pencapaian teladan dan terbaik karena berusaha melawan rasa minder di tengah-tengah geliat kegiatan teknik kemigasan.
Akhirnya, kesimpulan nya adalah rasa minder atawa kurang percaya diri menjadi tantangan dalam pelaksanaan tugas sebagai arsiparis. Tiap hari meniti aktivitas kearsipan untuk terus menghadapi tantangan rasa minder dan kurang percaya diri yang berasal dari diri sendiri dan dari bidang kearsipan bukan dari faktor luar
Semoga bermanfaat