Kesendirian Arsiparis

Penulis berusaha tiada jemu jemu untuk terus menuliskan kearsipan. Menapaki pertengahan Tahun 2019 ini, di bulan ke-enam pada pertengahan bulan ini menggali tema dan pernak pernik selama menjalani tugas kedinasan dalam jabatan arsiparis.

Beberapa respon dari sesama pekerja arsip via japri atau melalui komentar di blog menjadi penambah motivasi diri untuk menulis kearsipan. Ada yang curhat terkait kebingungan di kantor nya tentang tugas kearsipan. Ada juga yang merasa bahagia dan bangga atas pencapaian prestasi sebagai arsiparis.

Meski belum pernah kenal sebelumnya, belum pernah bertemu namun berkah tulisan, semakin menjalin silaturahmi. Minimal meninggalkan cerita yang kiranya dapat ditulis kembali.

Suatu hari pada tanggal 13 Juni 2019, seorang arsiparis dengan jabatan arsiparis mahir pada unit tata usaha salah satu biro (unit kerja level eselon 2 bukan unit kearsipan), Badan Tenaga Nuklir Indonesia yang belum berkenan disebut namanya, menyampaikan pesan singkat kepada penulis.

Melalui logat campuran bahasa Jawa, seorang arsiparis menyampaikan pesan singkat kepada penulis. Berikut kutip annya:

[13/6 08.03] arsiparis: TMT SK nya di 2016
[3/6 08.13] arsiparis: Rasane koyok di sisihkan ngono Pak nek arep butuh ngobrol soal iki lho gawean arsip kudu tenaga tambahan karo alat2… Pokoke rasane nge ganjel. Bedho nek sangkutan ne soal anggaran…
[13/6 08.25] arsiparis: Aku baru terampil mahir
[13/6 08.29] Arsiparis: Mau nya Bos ku Penilaian arsip di biro agar bagus semua bagian.

Penggalan pesan singkat tersebut bisa jadi merupakan pemandangan kearsipan yang juga banyak ditemukan di institusi lainnya. Bisa jadi????, mungkin saja.

Arsiparis yang memiliki perasaan kesendirian dan butuh patner dalam menerima penugasan pimpinan. Begitu juga penulis di awal awal menjalani hari hari berdinas sebagai arsiparis. Dalam tautan http://nurulmuhamad.blogspot.com/2019/06/awal-kerja-arsip.html

Menjadi pionir di unit kerja dalam pelaksanaan urusan kearsipan memang penuh lika liku nya. Terkadang perlu kiranya sesaat kita berlari 🏃dari kenyataan pekerjaan, namun kembali lagi dengan semangat yang terus diperbaharui.

Menjadi pekerja di bidang pekerjaan yang penuh dengan tantangan, penuh resiko namun sepi dalam apresiasi pimpinan, diperlukan jiwa yang besar. Trik nya adalah dudukan beban pekerjaan sesuai dengan jenjang jabatan. Jenjang jabatan arsiparis telah mengatur kemampuan untuk penyelesaian pekerjaan.

Jika tanggung jawab pekerjaan sebagai arahan dan harapan pimpinan belumlah dapat terwujud, pasrah saja jika kewajiban pekerjaan sesuai jenjang jabatan telah diusahakan penuh dengan semangat.

Capaian bidang kearsipan pada unit kerja bisa jadi berbeda dengan capaian kearsipan pada unit kearsipan. Untuk teman sejawat yang kebetulan memiliki habitat unit kearsipan (sub bagian kearsipan pada kementerian atau lembaga) patut bersyukur. Meski masih terdapat tantangan, namun bisa jadi tidak seberat yang dirasakan arsiparis ada unit kerja. Bisa jadi???? Mungkin???

Akhir tulisan ini, secara pribadi saya mengucapkan terimakasih atas curhatan via japri. Saya jadi banyak belajar. Semoga ibu tetap semangat meniti aktivitas kearsipan.

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar