Masjid di Jalan Kahfi I

Semoga tulisan ini dapat menjadi referensi tempat berhenti sejenak untuk menampakan jiwa penghambaan kepada Sang Penguasa Jagat Raya. Tulisan bernuansa kehidupan religi dari gerak rukuk dan sujud di bangunan peribadatan, #MASJID

Perjalanan sore hari sepulang kantor 🏢 terpenggal di jalanan. Sejenak berhenti di Masjid untuk tiga rakaat menjelang petang. Laju jalannya motor terhenti tatkala terdengar panggilan sholat.

Selalu di Jl. Kahfi 1, suara 🔊 dari TOA sahut menyahut mengantar matahari tenggelam di peraduannya. Suara yang berasal dari Masjid di sepanjang jalan itu menghentikan laju motorku.

Masjid pertama pada jalan arah pulang menuju gubuk 🏠 kudapati masjid di kanan jalan. Masjid Al Akhyar.

Masjid kedua adalah Masjid El Syifa. Terbaca yayasan El Syifa yang bergerak pada bidang pendidikan, pikir ku, karena terlihat bangunan sekolah di belakang masjid.

Masjid ketiga berada di daerah sebelum brigif. Bangunan bernama Masjid Assa’adatain. Masjid ini juga dalam pengelolaan yayasan. Terlihat bangunan sekolah yang berdekatan.

Masjid keempat terletak sebelum perempatan timbul, masih di Jalan Kahfi I. Kita dapat menjumpai Masjid Al Makmur. Meski berdekatan dengan sekolah, namun posisi berseberangan. Kini berdiri ruko ma’mur disebelahnya, mungkin saja pendiri nya keluarga Ma’mur 😂😀😄😄

Masjid kelima di Cipedak, bernama Masjid Asy Syakirin. Masjid ini juga tepat dipinggir jalan Kahfi I. Pada pintu masuk, disediakan parfum gratis untuk dipakai sebelum masuk masjid.

Masjid ke-enam, se penglihatanku bernama Mushola, lepas renovasi jelas terbaca tulisan Masjid Arriadut Taqwa. Pernah suatu petang saat tiba berbuka puasa, saya mampir dan melihat disebelah kanan Masjid berkumpul para santri. Mungkin ada pondok pesantren di sebelah masjid tersebut.

Di penghujung jalan Kahfi I, sebelum berbelok jalan menuju daerah Matoa Golf, terdapat Bangunan Al Inayah. Sore tadi, saat lepas sholat magrib, saya mengambil air 💧minum, air mineral berwadah gelas yang disediakan gratis untuk para jamaah.

Demikian ceritaku hari ini. Cerita dari sudut rutinitas keseharian berangkat dan pulang dari dan ke rumah yang beralamat Perumahan Villa Tanah Baru, kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat menuju dan meninggalkan Gedung Migas di Jl. HR Rasuna Sa’id Kav.B5 Setiabudi Kuningan Jakarta Selatan.

Kurang lebih 25 kilo meter dengan waktu tempuh 1 jam s.d. 1,5 jam, saya mengendarai moda kendaraan favorit dan termurah, yakni sepeda Motor.

Apa iya, kata orang orang, hidup di kota besar seperti Jakarta, menua di jalan???? Jika diitung dengan asumsi waktu tempuh tercepat (kala jalan lancar), selama lima tahun telah melewatkan lebih dari empat bulan.

Begini gambaran kasar perhitungan waktu nya:
– sehari : 1 – 1,5 jam
– seminggu : 10 – 15 jam.
– satu bulan : lebih dari 2 hari
– satu tahun: mendekati 4 minggu
– lima tahun: lebih dari 4 bulan

Memang bukan waktu berturut turut, namun jika kita bayangkan, lama juga ya…, selama lebih dari empat bulan engendarai motor. Maka selama itu pula, tersimpan memori dan catatan nuansa hidup di jalanan.

Pada tulisan sebelum, nuansa hidup di jalan terdapat cerita warung jus buah. https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/06/21/kenapa-harus-jus-buah/

Masih banyak sudut kehidupan jalanan lain yang perlu dituliskan, semoga menjadi catatan kenangan di saat tua nanti.

Semoga bermanfaat.

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar