Bijak di Media Sosial (WAG)

Hampir semua sisi kehidupan di sekitar kita telah lekat dengan media. Dengan media yang terhubung dengan teknologi, kita cepat mendapat kan informasi. Begitu juga kita berhak untuk meneruskan dan merangkum informasi untuk dikabarkan kepada orang lain.

Menyampaikan dan mendapatkan informasi merupakan hak semua orang. Informasi berupa pendapat yang berbeda, ketidaksetujuan atau berseberangan dengan orang lain itu syah syah saja.

Ketidaksukaan kepada kondisi lingkungan kerja pun, dapat disampaikan melalui media asalkan memahami kontek dan keterkaitan dengan yang lain. Misalnya pada Whatsapp grup yang dibentuk sebagai sarana komunikasi antar pegawai dalam unit kerja.

Berikut kutipan percakapan di suatu WAG semoga menjadi pelajaran berharga bagi saya pribadi
[26/6 16.10] si Bapak: Bu ….. gak ikut rapat arsip …🙏😜
[26/6 16.14] si Bapak: Bu … gk diajak rapat arsip 🙏
[26/6 16.16] si Ibu: bapak kaya ga tau aja 🙈🙈🙈
[26/6 16.16] si bapak: Oh kira sy sekretaris diajak…
[26/6 16.17] si bapak: Cakep
[26/6 16.32] si Ibu: Oh…saya sekretaris ya pa ???…… Saya sampe lupa pa .
[26/6 18.48] si bapak: Hahaha bu sektetaris utama es3.. loh…🙏
[26/6 18.50] si bapak: Bu….. sy ingatkan y Ibu adalah sekretaris utama unit es 3…loh…🙏🙏🙏🙏
[26/6 18.52] si bapak: Jadi y ada acara apapun tolong dilibatkan … jangan ditinggal…🤪 bila menyangkut unit es.3
[26/6 19.55] si ibu: Saya juga ga tau …bapak yg tau..
[26/6 19.59] si ibu: Pa saya bukan Sekretaris di unit es3. Hanya tukang catat surat masuk keluar dan nomorin surat aja pa.

Kutipan diatas menunjukkan sikap menyindir terkait salah satu informasi. Kegiatan rapat di luar kota tentang tema tertentu menjadi informasi yang ditangkap oleh si Bapak dan si Ibu dalam percakapan tersebut.

Meski hanya percakapan biasa, namun ketika dilakukan pada media grup, memberikan informasi kepada para anggota grup terkait. Sikap nyinyir dan menyindir tersebut di tangkap berbeda bagi anggota grup yang berasal dari beberapa unit kerja.

Diawali dari rasa iri, atau merasa tidak dilibatkan, dan tidak tercatat dalam surat tugas maka terjadi perbincangan sebagaimana kutipan di atas. Si bapak yang merasa membela hati si ibu, memulai dengan kalimat bertanya.

Si Ibu menjawab dengan kepura puraan dengan tujuan agar percakapan diselingi nuansa humor. Si bapak melanjutkan dengan kalimat yang menunjukkan sikap pembelaan atas perasaan si Ibu. Pernyataan si Bapak tersebut yang seolah olah menunjukkan sikap menolong untuk si Ibu. Hehehe

Yuk, kita bahas kutipan percakapan tersebut!!!

Bisa jadi, percakapan tersebut meresahkan para anggota WAG yang membaca. Bisa jadi seorang anggota grup menerima bahwa informasi percakapan tersebut merupakan bentuk ketidakadilan yang dirasakan oleh si Ibu. Bisa jadi muncul persepsi bahwa si Bapak adalah pahlawan pembela ketertindasan.

Atau bisa juga, kedua orang tersebut baik si Bapak dan si Ibu merasa dirugikan jika tidak diajak pada kegiatan rapat di luar kota.

Dengan demikian media menjadi sarana curhat. Media menjadi sarana menyampaikan informasi dengan kesan menyindir, meski tidak sampai nyinyir. Secara tidak langsung, hal ini menciptakan kondisi yang berbeda beda sesuai persepsi si pembaca. Bisa negatif dan sangat sedikit bernilai positif.

Bagi pembaca atau anggota grup sebagai pihak yang menginisiasi kegiatan rapat, percakapan tersebut membuat perasaan risih. Perasaan bernuansa negatif.

Bagi pembaca atau anggota grup yang merasa dalam satu unit kerja akan berasa terprovokasi. Provokasi ketidak adilan, provokasi ketertindasan, provokasi atas perasaan yang tidak menguntungkan bagi si Bapak dan si Ibu termaksud.

Mungkin Si Bapak dan si Ibu butuh suporter dan pendukung untuk meluapkan perasaannya. Atau si Bapak dan si Ibu, sudah malas dan gak tega menyampaikan langsung kepada pihak yang menginisiasi kegiatan rapat tersebut di atas.

Padahal informasi kegiatan rapat masih akan berlangsung di bulan depan. Padahal panitia juga menjadwalkan bahwa si Ibu dan si Bapak diajak sebagai peserta rapat.

Berikut kutipan konfirmasi dari panitia kegiatan rapat
[26/6 17.41] si panitia: maaf bu.. itu rapat tgl berapa…?
[26/6 20.04] si panitia: kalau rapat tgl 4 memang saya belum bikin PD nya, saya udah jadwalkan semua staf unit terkait..

Nah lo….
Ternyata hanya kesalahan komunikasi. Ternyata muncul percakapan dalam WAG dari perasaan yang tidak menguntungkan bagi si Bapak dan si Ibu. Hanya perasaan saja, bukan suatu fakta ketidakadilan, atau kondisi tidak menguntungkan bagi pihak tertentu.

Di akhir tulisan ini, saya menjadi belajar. Belajar bagaimana menyikapi suatu informasi. Informasi yang tidak menguntungkan, informasi yang menumbuhkan rasa ketidakadilan. Bukan berasal dari substansi informasi namun berasal dari perasaan si pembaca informasi.

Orang bisa baper jika membaca dan mendengar informasi yang terkesan tidak menguntungkan. Terlebih informasi yang sudah dibumbui perasaan negatif.

Akhirnya informasi membuat seseorang menjadi kompor, menjadikan seseorang memprovokasi. So kita perlu berhati hati dalam mempergunakan media sosial. Kita sebisa mungkin bijak dalam menyikapi suatu informasi.

Bagi saya pribadi, ini adalah pelajaran luar biasa di hari ini. Kadang secara pribadi, saya mungkin bisa melakukan hal yang sama.

Terima kasih
Semoga bermanfaat

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar