Bermain anak & genggaman dagang

#duniaBermainAnak #NgangonBocah
Tak jarang telingaku mendengar, mataku menyaksikan orang tua ngangon bocah. Sebagai orang yang diberikan titipan bocah, wajar jika menjadikan akhir pekan sebagai saat saat bersama bocah.

Pun dengan diriku, kehadiran bocah bernama Nasywa & Dipta, lekat erat dengan “ngangon bocah”. Istilah Jawa ” ngangon bocah ” merupakan kegiatan untuk memfasilitasi anak bertemu dengan dunianya.

Melalui untaian kata di sela sela mengantar dan menemani mantan kekasih. Dalam susunan kalimat dan paragraf sembari mensruput kopi. Di warung pingir TIP TOP Jl. Tole Iskandar Depok, mencoba mendalami dunia bermain anak.

Dunia bermain anak menarik perhatianku sejak kehadiran Nasywa & Dipta. Enam tahun pada Juli untuk Nasywa dan lewat empat tahun lepas Mei untuk Dipta. Usia yang penuh lekat dengan dunia bermain.

Dunia bermain anak bertemu dengan pola kehidupan orang tuanya yang dalam wujud ‘Ngangon bocah’.

Nayswa & Dipta harus berkompromi dengan pola kehidupan orang tuanya. Aktivitas orang tua di akhir pekan berpola layaknya kaum Urban lainnya maka terjadilah ngangon bocah di toko swalayan.

Ngangon bocah di tempat tersebut juga didukung dengan tersedianya fasilitas umum berupa arena bermain anak. Sebagaimana pada tulisan sebelumya pada tautan
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/06/16/arena-bermain-anak/?preview=true

Satu minggu setelah tulisan tersebut, kembali ngangon bocah di tempat itu. Nalarku berteriak ketika menyaksikan petugas sedang membongkar arena bermain gratisan. Proses pembongkaran pun saat jam operasional. Pembongkaran ketika anak anak sedang di arena bermain.

Aku pun tidak menanyakan kepada petugas đź‘® tersebut. Terlihat mandor menyambangi para tukang. Dalam hati hanya bisa menyimpulkan, arena bermain tersebut dibongkar.

Pembongkaran akses naik pada arena bermain membuat Dipta tak bisa menemukan dunianya. Tersisa tangga bertali yang masih dipergunakan anak anak untuk menemukan dunianya. Termasuk Nasywa yang mulai mengasah keberanian dengan naik tangga bertali.

Merasa tidak puas dengan arena itu, Nasywa dan Dipta beralih mengincar untuk arena lain yang berbayar. Arena mobil batery menjadi pelabuhan dunia bermain mereka.

Meski tidak gratis, namun demi anak yang akan menemukan dunianya. Aku menebus tiga ribu rupiah untuk satu koin.

Incaran arena bermain gratis, beralih ke arena bermain berbayar. Ternyata dunia anak dalam penguasaan sektor dagang, pikirku dalam hati.

Sistem berbayar terkadang menggelisahkan sebagai orang tua. Tidak ada kompromi lagi ngangon bocah di tempat perdagangan. Gelisah dengan biayanya hanya akan merusak nuansa ngangon bocah dan akan menjauhkan anak dengan dunianya.

Saat kegelisahan memuncak, ngangon bocah pun sembari memilih milih barang keperluan dg hiasan harga promo. Ngangon bocah yang tidak sesuai dengan dunianya. Dunia anak harus terkontaminasi dengan produk2 industri dengan dalih keperluan sehari hari.

Ngangon bocah hari ini, Minggu 30 Juni 2019 di toko swalayan lagi. Meski tidak satu lokasi dari toko swalayan yang dikunjungi.

Nasywa dan Dipta mememukan dunia bermainnya di lokasi perdagangan. Pola hidup berbelanja dan dunia bermain anak terintegrasi dengan sempurna. Tak pelak prasangka ini mengakatan ‘Dunia anak dalam penguasaan dagang

Satu anak dengan harga tiket 30 ribu menjadi prospek dagang dunia bermain anak. Semakin rajin orang tua berbelanja, semakin meningkat prospek bisnis bermain anak. Dan ketika tidak berubah pola hidup berbelanja, maka warna dunia bermain anak dalam penguasaan dagang

Tak heran, jika muncul perkataan orang bahwa ngangon bocah sekarang perlu budget khusus. Ngangon bocah saat ini bukan lagi sekedar memberikan kesempatan agar anak menemukan dunia bermain, namun rela menjadi sasaran dagang.

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar