Jumat, 12 Juli kembali menjadi hari bersejarah untuk Direktorat Jenderal Migas. Belum genap dua tahun, sejak 28 Maret 2018, ketika Bp. Ego Syahrial digantikan Bp. Djoko Siswanto. Suksesi kepemimpinan yang begitu cepat. Pergi dan datang silih berganti.
Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada level pelaksana/staf, pergantian pucuk pimpinan pembantu menteri ESDM ini memberikan dampak penyesuaian di awal masa jabatan.
Sebagai staf di urusan ketatausahaan yang mengawal urusan persuratan, saya mempunyai cerita bagaimana sarana persuratan menjadi bagian terberat saat pergantian pucuk kepemimpinan.
Kehadiran seorang Dirjen Baru menjadi tantangan bagi keberadaan sarana pengurusan surat. Sarana disposisi surat berupa aplikasi database berbasis web kembali diuji keberadaan nya.
Kepercayaan diri dalam mempergunakan sarana persuratan belum disambut dengan kondisi administrasi pemerintahan yang berbasis e-government.
http://nurulmuhamad.blogspot.com/2017/10/persuratan-elektronik.html
Pada tautan yang berjudul persuratan elektronik tersebut di atas ⬆⬆ bercerita bagaimana pemantapan pembiasaan penggunaan sarana persuratan oleh seorang dirjen pengganti.
Tahun 2018, tepat lepas bulan ketiga, pun mengalami badai dimana Dirjen yang baru dilantik oleh Menteri belum merasa percaya diri untuk menggunakan sarana disposisi surat berbasis aplikasi.
Badai 🌪⚡yang akan menghempaskan sarana persuratan berbasis aplikasi jika seorang Dirjen menolak untuk mempergunakannya. Sampai dengan bulan ketujuh tahun 2019, sarana persuratan masih mampu bertahan.
Info sekretaris pribadi Dirjen, keberadaan di luar kantor menyulut kebutuhan sarana persuratan berbasis internet. Bp. Dirjen Migas melakukan disposisi melalui aplikasi surat bahkan diluar jam kerja dan di luar negeri.
Bagaimana dengan Dirjen berikut nya?? Apakah nantinya Dirjen baru juga berhadapan dengan rasa kurang yakin untuk mempergunakan sarana persuratan berbasis internet????
Satu pendapat untuk “Menanti Dirjen Migas”