Selasa, 16 Juli 2019 melalui Pak Aco, pejabat administrator eselon tiga memberikan sentuhan kearsipan di Ditjen Migas memancing kembali cakrawala wawasanku. Wawasan kearsipan selama ini yang terkurung dalam ruang dan dimensi media.
Gagasan yang menarik dari pak Aco untuk mengcapture atau menangkap arsip hidup. Apakah Arsip hidup itu?????
Meski secara harfiah, lebih dekat dengan dokumentasi bukan kearsipan, namun secara tinjauan lain, sangat menarik untuk diposisikan sebagai suatu gagasan dalam pembangunan kearsipan.
Pagi itu, saat kedua tangan tak luput dengan berkas pindahan dari unit pengolah/unit kerja, harus terhenti kala mata melihat nama pak Aco menyertai bunyi HP. Keseharian sebagai petugas arsip, ruang kerja pun jauh dari ruang kerja pimpinan. Ruangan ku menyatu di ruang pada pengolahan Arsip, seperti pilihanku agar bisa konsen kearsipan.
Beberapa saat terhubung melalui seluler, saya pun melangkah kaki menuju ruangan Pak Aco untuk mendapatkan arahan kerja.
Seperti biasanya, beliau menyapa dengan penuh canda. Di ruangan beliau, semakin lengkap dengan kehadiran pejabat pengawas sub bagian tata usaha (bu Ike)ang dilantik pada hari Jumat 12 Juli 2019.
Arahan kerja Pak Aco agar direncanakan aktivitas wawancara pelaku sejarah, sosok Direktur Jenderal Migas menjadi maksud dari arsip hidup, versi Pak Aco.
Di bangku sekolah dulu, Arsip hidup versi pak Aco masuk dalam mata pelajaran “metode pengolahan informasi lisan”. Pendekatan dalam memaknai wawancara pelaku sejarah yang dapat melengkapi khasanah Arsip.
Sentuhan pak Aco, untuk membangun kearsipan Ditjen Migas tersebut, sangatlah menginspirasi. Meski demikian sesuai kemampuan unit kearsipan ditjen Migas belum mampu dilaksanakan.
Perbedaan tafsir peran unit kerja dan keterbatasan sumber daya pendukung dan tingkat prioritas aktivitas kearsipan, belum mendukung terobosan pengolahan Arsip hidup.
Berjajar nama nama arsip hidup yakni pelaku sejarah Ditjen Migas yakni pimpinan tinggi madya, Direktur Jenderal Migas sejak pak Soedarno, Suyitno, Rachmat Sudibyo, Iin Arifin Tahyan, Luluk sumiarso, Evita Herawati Legowo, Edy Hermantoro, IGN Wiratmaja, Ego Syahril, Djoko Siswanto.
Kepergian Bapak Seopraptono Soelaiman setahun yang lalu, menambah niat untuk mendokumentasikan arsip hidup. Kegiatan mendokumentasikan sejarah perjalanan Direktur Jenderal pernah dilaksanakan oleh Bagian Rencana dan Laporan (SDML). Kala itu, saat era kepemimpinan Sesditjen Migas, Bapak Edi Purnomo dan lanjutan Sesditjen Migas, Bapak Edy Hermantoro.
Adalah sosok wanita satu satunya yang menjabat sebagai Dirjen Migas, Evita Herawati Legowo, menjadi aktor film dokumenter kala diputar saat pelepasan pensiun. Meski di ruang arsip tidak menyimpan dokumentasi informasi lisan tersebut.
Di akhir tulisan ini, semoga sentuhan Pak Aco dalam menangkap Arsip hidup dapat terealisasi di saat tingkat prioritas kearsipan dihadapakan dengan penyelamat dampak renovasi gedung Migas. Semoga bukan hanya di Bagian Umum kepegawaian dan organisasi saja, karena gagasan ini sangat bermanfaat untuk dokumentasi kemigasan di Indonesia.
Semoga bermanfaat
Satu pendapat untuk “Arsip Hidup ala Pak Aco”