Nista

Selasa, 24 September 2019 duduk di warung Jus sebelum sampai di rumah sembari mengingat kata “nista”. Berusaha mengabaikan telepon bocahku lepas magrib tadi untuk mengilustrasikan kata *nista*. Meski bukan waktu yg tepat untuk menguraikan kata %nista% disaat keluar kantor di ba’da magrib kelar melemburkan diri mengerjakan KAK dan RAB.

Aku pun mengambil suatu kewajaran jika sampai petang tadi belum terselesaikan KAK dan RAB yang nilainya ratusan juta itu. Meski sejak pagi berada di depan komputer, raga dan otak bersitegang dengan aktivitas pemilahan arsip sebagai tugas utama sebagai arsiparis.

Dan ternyata bukan hanya tugas utama yang mendera otak ini namun juga ternyata kata #nista#. Seandainya para pembaca mendapatkan kesan “jijik” setelah membaca tulisan yang beraroma curahan hati atawa curhat dari laki laki, maka bisa jadi hampir sama saat mempergunakan kata -nista-

Kata =Nista= harus aku ilustrasi karena permintaan dari seseorang yang harus aku hormati. Penghormatanku bukan hanya jabatan dalam urut urutan pangkat dan golongan yang melekat di PNS, namun siapapun itu, doktrin agamaku mengharuskan itu.

“Salam Hormat MY”, begitulah kira kira yang melekat di ratusan anak buah beliau. Siang kemaren, tak tahu ada angin apa tiba tiba terjebak dengan obrolan hangat bersama sosok kharismatik pemilik jargon #Salam Kompak Selalu#.

NISTA, KENISTAAN….apa sih itu?????

Pembelaan diriku bahwa aku tidak *nista*’ karena yang bisa dilakukan bawahan adalah melaksanakan perintah atasan. Jika bukan karena ada atasan, masih bisakah para bawahan memainkan peran dalam kenistaan??? Jika bukan untuk tujuan suksesi kepemimpinan, bagaimana bawahan melenggang berkiprah????

Gimik tangan masuk dalam kantong celana sendiri bisa jadi berbeda makna saat harus memikirkan kebutuhan operasional organisasi. Kebutuhan riil para bawahan yang merasa butuh diperhatikan. Kebutuhan untuk percepatan harmonisasi suatu penyelesaian pekerjaan. Sampai dengan desakan bahwa semua butuh pety cash demi kinerja yang berwibawa.

Semakin jelas apa itu *******nista****”” ”

Pungutan liar, selisih harga, diskon, atau keuntungan pribadi menghantui para pekathik negara ini. Kadang, pada acara” UKA UKA” si hantu bukan menghantui, namun disuruhnya datang.

Diakhir tulisan ini, semoga saja ilustrasi diatas benar sesuai dengan tafsir beliau. Tafsir dan ilustrasi dari kata #NISTA#. Sampailah kita dalam musim “nista” bukan musim durian. Musim dimana para pekathik berfokus untuk penyusunan kitab kenistaan.

Bulan ini menjadi bulan dalam rangkaian penyusunan Kegiatan tahun anggaran 2020 sebagai penjabaran pidato Nota Keuangan APBN 2020 di bulan Agustus lalu oleh Bapak Presiden Republik Indonesia.

Namun, sebagai bagian dari pekathik, hanya bisa bilang “walatajasasu walataiasu”, jangan pernah takut dan bersedih hati berada dalam dunia %%nista%%. Bisa jadi, bukan itu, bisa jadi kita semakin ditempa untuk menjadi rahmatan lil alamin.

Masih ingat kah, pelajaran dari bunga bangkai yang terlihat indah? Atau ilmu dari kotoran yang dapat menyuburkan tanah dan pepohona sampai menjadi sumber energi?

Sekian #selamatDatangDiDuniiaKerjaPenuhNista##

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar