BANGUN PAGI

Pagi ini, kedua kalinya ajak Rara, si bontot jalan pagi dengan kereta dorong. Kali ini kakak Nasywa turut jalan bersama ratusan meter untuk sekedar menghabiskan waktu pagi sembari mendatangi tukang bubur.

Aktivitas bersama anak, dilakukan untuk membangun Chemistri. Karena saat besar nanti, mereka asyik memasuki dunia masing masing.

Pada tiga tahun yang lalu, hampir tiap pagi mendorong kereta dengan dua anak. Kini kebiasaan itu sudah hampir terlupakan. Nasywa anak pertama dan Dipta anaku yang kedua masul dalam satu kereta.

Bangun pagi yang banyak manfaatnya itu, sering lepas dari hari hariku. Meski tidak mau terjadi pada anak anaku, tetap saja masih belum menjadi perhatian nomor satu. Seolah hidup hanya mengikuti kejadian yang terjadi.

Bahkan bangun pagi, bukan berasal dari diri sendiri. Sering rengekan anak minta pipis, atau saat si bayi menangis, baru bisa membangunkan dari tidur malamku.

Suara adzan dari speaker masjid yang melengking di sebelah rumah pun tak jua membangunkan aku. Padaham cukup kenceng datangnya suara itu.

Meski demikian, tahun 2019 mengalami peningkatan untukku bisa bangun sebelum subuh. Minimal sebulan sekali. Atau dua minggu sekali. Berharap bisa seminggu sekali. Bercita cita bangun sebelum subuh tiap hari.

Semua itu, krn sudah ada bangunan Mushola di Perumahan Villa Tanah Baru. Mushola yang meningkatkan pembiasaan baik sedari bangun pagi.

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar