
“Pak , apasih yang berat selama tiga tahun menjadi ketua RT” tanya pak Baderi setelah usai pesta politik tingkat RT. Spontan ku jawab “tak ada pak, asal saat ada kegiatan didukung oleh bapak atau ibu warga”. Hanya saja jika
terdampar pada rasa #kesendirian# itu tidak enak banget.
Perbincangan tersebut terjadi di bubaran acara dengan terpilihnya Pak Eko selaku ketua RT 10 RW sebelas, di lapangan Badminton VTB(Fasos Gazebo).
Aku pun mengibarat parodi. Lakon Ketua RT yang dianggap sebagai lakon sapu jagad itu, perlu beberapa sentuhan peran dari lakon lakon lain, tak terdampar pada #kesendirian#.
Tidak perlu banyak warga, cukup beberapa warga yang berkemauan melengkapi lakon sapu jagad,. Maka sudah cukup menghalau rasa kesendirian itu. Tatkala kesendirian itu telah sirna, maka tiada yang berat beban lakon sapu jagad yg dimiliki seorang ketua RT.
Misalnya saja di hari Sabtu, 5 Oktober 2019, bapak Ade yang berkenan mengabulkan permohonanku untuk menjadi PIC kepanitiaan lokal untuk peremajaan RT masa Bhakti 2019-2022.
Dan juga tokoh masyarakat tanah baru yg kebetulan warga VTB [5/10 19.16] pratama: Pak RT, butuh sound yg agak besaran dikit nggak? Nanti biar saya suruh anak-anak pasangin…
Tak tanggung tanggung, kesediaan dua orang, tulus bahkan sejajar dengan refkel kebaikan manusia.

Meski dadakan, dipinta pada lepas empat rakaat di mushola Al Ukhuwah di tengah hari, tanpa ragu di petang hari Pak Ade secara aktif mengkomandani terselesaikan tugas peremajaan ketua RT 10. Pun dengan adanya soundsystem, menjadi lebih lancar.
Kini, wajah wajah pemilik KTP yg bertuliskan Villa Tanah Baru terlihat cerah kembali. Berbeda dengan sebulan lalu, wajah tegang seolah terhantui “peremajaan ketua RT”.
Segala cara dilakukan untuk dapat menghindar dari penunjukan atawa keterpilihan sebagai ketua RT. Yang pandai berbicara di depan forum, melancarkan kalimat tajam agar membentengi diri terpilih menjadi ketua RT.
Mulai dari deskripsi kebiasaan/ preseden/kesepakatan dulu – – sang koordinator komplek tidak dapat menjadi koordinator kembali–. Menilai dan mendeskrepsikan kelebihan orang lain. Memuji keberhasilan incumben atau RT lama dan seterusnya.
Yang biasa berteriak di belakang, memberi sorak sorai saat satu nama dimunculkan untuk terpilih menjadi ketua RT, yang penting bagaimana cara agar terhindar dari keterpilihan ketua RT.
Emang berat y, jadi ketua RT itu????
Setelah 31 Agustus 2019, nampak tiga wajah tegang dan bisa jadi wajah kekecewaan atau wajah keberatan saat ditetapkannya tiga nama calon sebagai hasil penjaringan Bakal Calon Ketua RT 10.
Namun malam tadi, pada obrolan ringan dengan ketua RT 10 terpilih dan salah satu calon tidak terpilih sudah kembali mencair dalam suasana kekeluargaan dan kedewasaan.
Mencairnya memori sebulan lalu yang begitu penuh wajah kekecewaan, ketidakterimaan, dan ketegangan tidak dapat diabaikan dengan kehadiran panitia peremajaan RT dan RW berdasarkan surat keputusan kepala kelurahan tanah baru.
Utusan Lurah tersebut mengharmonisasi rasa kekecewaan, ketidakterimaan dari dominasi pemegang microfon (ketua RT) sebagai pengendali forum saat penjaringan Bakal Calon ketua RT 10.
Forum RT 10 Perumahan Villa Tanah Baru pada 31 Agustus 2019 yang dianggap tidak ada kemufakatan musyawarah, RTnya yang dibilang otoriter, RTnya yang dinilai tidak fair, sampai dengan ancaman pembubaran jika RT nya sewenang wenang, serta pelaporan ke kantor kelurahan, luluh lantak dengan harmonisasi tim utusan Lurah Tanah Baru.
Diakhir tulisan ini, mungkin sudah menjadi suratan takdir, saya selaku RT 10 masa bhakti 2016-2019 jatuh dg harapan Khusnul Khotimah.
Bukan saya tidak berkemauan untuk kembali menjalani Lakon RT, namun butuh peremajaan saja. Janjiku disaat penjaringan bakal calon pada 31 Agustus 2019, akan kujaga selalu. Senantiasa mendukung kegiatan kemasyarakatan demi Villa Tanah Baru yg aman, nyaman dan berwibawa.
Semoga bermanfaat
Satu pendapat untuk “Romantika Ketua RT”