
Rabu, 23 Oktober 2019
Rara si bontot mulai tidur tanpa diiringi “nenen” ibunya. Beberapa malam sih ok, hanya semalem kok agak susah. Meski sempat ku ajak keluar, untuk menjagaku dari kantuk, namun itu juga tak memuluskan jalan Rara dihinggapi kantuknya.
Mendekati jam 11 malam, tangis Rara yang kenceng membangunkan biangnya yang lebih dulu tertidur 😴 😴. Aku pun bisa memaklumi, karena selain bekerja, teman serumahku telah kecapean dalam berdarma untuk keluarga. Di keluarga, istriku rajin memasak untuk sarapan lelaki nya.
Pun setelah lepas dari tugas kantoran, peran lain sebagai ibu, tidak mau dibilang lalai dengan tugas rumahan. Sedari cuci piring, melayani anak anak, cuci pakaian, sampai mengusir 🐭 tikus. Pokoknya diborong semua deh.
Balik ke cerita Rara tadi, bahwa menjadi seorang lelaki itu perlu kesabaran juga. Sabar dalam mengisi kekosongan peran di keluarga. Salah satunya peran yg sudah rutin adalah menidurkan anak anak. Pernahkah merasa bahwa ternyata menenami anak menjelang tidur itu gampang gampang susah??
Tatkala balita kita tidur agak larut malam, bisa jadi mereka tidur siang lumayan lama. Keinginan untuk terus bermain, tak jarang menyulut konflik anak dan orang tua. Terlebih buat istri, yang telah merasa kecapekan.
Dua anak yg sudah lepas dari ketergantungan ketek ibunya, tidak terlalu menyulitkanku. Meski dulu sempat suatu malam, aku pernah mengalami bersitegang dengan Dipta, gara gara terlalu larut malam, lebih jam 11 masih ingin bermain, tak juga beranjak tidur.
Menemani Nasywa dan Dipta menjelang datang kantuk, cukup berbekal susu dalam botol. Susu bubuk dicampur dengan air dingin menjadi amunisi ampuh untuk mendatangkan kantuk mereka.
Mendatangkan kebiasaan membacakan buku cerita, kadang sudah bukan hal yang menarik bagi Nasywa yang telah aktif baca dan tulis. Cerita karangan sendiri pun tak canggung kubawakan tatkala Dipta merasa tidur siang agal lama.
Di akhir tulisan ini, aku pun harus menyampaikan rasa Syukur kepada Sang Pencipta. Betapa besar karunia Nya yang menghadirkan pasangan 👫 hidup. Bersama dia, aku bisa bertahan mengawal keluarga 👪 dengan tiga orang anak.
Dengan keterbatasan kemampuan ku, jadilah ia sosok perempuan yang tangguh. Tidak dapat memprotes segala kekurangan dia, karena begitu banyak kehebatannya yang menutupi figur seorang kepala keluarga.
Terimakasih 🤝 buat istriku