
Para Pemuda terus bertumbuh dan berkembang. Ribuan tahun yang lalu, kala Muhammad menjadi sosok perubahan peradaban manusia terekam sejak berumur belia. Pun di era milenial ini, pemuda yang digadang gadang, diberikan kesempatan untuk lebih banyak berkiprah.
Tak jarang kita jumpai, usia pemuda menduduki jabatan, RT sampai kepala Kelurahan. Tahun 2016, saat penulis menginjak usia 34 tahun, ditunjuk pada jabatan ketua RT di Kelurahan Tanah Baru. Pun demikian, pak lurah saat ini memiliki tahun kelahiran 1982.Kini di tahun 2019, menteri Pendidikan dan Kebudayaan diemban oleh pemuda usia 35 tahun.
Pemuda yang dibayangi ketakutan naik pesawat ✈ terbang, kini mondar mandir dari bandara satu ke bandara lainnya sebagai penumpang tetap. Pemuda yang terbiasa antar kota lintas propinsi, kini bergerak ke luar negeri. Pemuda kampung yang punya hobi mengelap motor pun bekembang dengan menyodorkan cucian mobil pada tiap bulannya. Tanda tangan pemuda yang dipergunakan untuk menunjukkan kehadiran saat kuliah atau masuk kerja, kini sebagai bentuk legalisasi proses terealisasikan anggaran.
Pemuda dan Pemudi sampai pada tumbuh dan kembang. Mungkin sudah suratan takdir dari Nya. Sepasang Muda mudi bersama menambah datangnya jiwa. Dua ke tiga tak terasa sampai ada yg lebih dari lima jiwa. Dulu masih culun di Ibukota, sekarang menjadi ternama, minimal pada cerita sosok pemuda di lingkungan sekitar nya.
Ilustrasi ini bukan menceritakan siapa dan bagaimana. Tulisan ini mencoba memaknai suatu pertumbuhan dan perkembangan para pemuda. Sebagaimana momentum 28 Oktober pada Bangsa Indonesia. Satu momentum yang dijadikan hari nasional Negara Indonesia, “Hari Sumpah Pemuda”
Teks sumpah pemuda yang telah disempurnakan pada ejakan kata katanya berbunyi :
Sumpah Pemuda
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia
Memaknai momentum hari nasional Sumpah Pemuda tidak dapat dilepaskan dari konteks waktu dan tantangan kondisi kehidupan.
Bisa jadi ini eranya tukang Teknologi Informasi, karena kemudahan hidup dengan adanya Internet dan berbagai aplikasi berbasis Android telah meracik kehidupan menjadi sangat instan. Pemuda dan teknologi berusaha diramu sedemikian rupa menjadi pemandangan di segala urusan.
Diakhir tulisan ini, penulis yg merasa di usia bawah 40 tahun menjadi bagian dari pemuda indonesia, mencari eksistensi diri dengan terus bergerak maju dengan semangat litetasi digital.
Mengabarkan kepada dunia terkait hal yang berada di sekitar untuk tumpah darah, satu bangsa dan satu persatuan di Bumi Indonesia.
Semoga bermanfaat