
Minggu terakhir di bulan kesebelasan tahun 2019
Roda organisasi berputar dengan kemunikasi kedinasan. Lalu lintas persuratan dinas meramaikan para fungsional tertentu dan fungsional umum dalam menjalankan roda organisasi. Persuratan sebagai umpan pekerjaan birokrasi berbentuk disposisi pimpinan.
Para staf yang terdiri jabatan fungsional itu menyibukkan diri untuk penyelesaian tugas dari atasan langsung. Namun berbeda dengan satu jabatan fungsional yakni Arsiparis. Umpan pekerjaan bukan semata mata dari disposisi pimpinan.
Meski tiada umpan pekerjaan via disposisi surat dari atasan langsung, tumpukan arsip langsung menghampiri aktivitas kearsipan. Endapan rekaman kegiatan kemigasan Indonesia menyulut keinginantahuanku. Adrenalin pun naik secara otomatis tatkala ruang simpan terasa semakin sempit dijejali arsip inaktif.
Hari hari di ruang arsip merasa terhibur dengan kehadiran beberapa teman salah satunya Haji Tatang. Canda riang Haji Tatang di tiap harinya, selalu menyulut kerianggembiraan atmosfir di ruang arsip. Memang, haji tatang bukanlah arsiparis atau Pengelola Arsip. Secara aklamasi melalui SK pegawai, dia sebagai juru mudi di kantor yang keseharian menjalankan mobil jemputan.
Lepas tugas menjemput penumpang yang notabene pegawai di kantorku, tiada aktivitas tetap yang kemudian mengkondisikan perjodohanku melalui kerja kearsipan. Secara unit kerja, masih dalam naungan pejabat administrator yang sama, sehingga memudahkan jalan pertemuan kearsipanku dengan haji Tatang.
Paruh baya beranak dua itu memiliki etos kerja yang baik. Meski berawal dari pegawai honor di urusan permobil dinasan, keuletan dan kesetiaan membawanya kejalur Pegawai Negeri Sipil. Catatan kerja untuk melayani Dirjen Migas di Era Bapak Iin Arifin Tahyan mengukir sebagai juru mudi paling senior di kantor ku.
Dari haji Tatang, kubelajar kesucian diri. Suci bukan hanya identik dengan putih bersih, namun suci dari persepsi yang lain. Meski sisi bicara sering dibilang “bocor” dan tak jarang mencela sesama, serta agak sering nyrempet “saru” namun terpendam nilai kesucian dari sosok Haji Tatang. Ketulusan hati dan apa adanya dalam menanggapi kondisi kehidupan adalah nilai kesucian dari sosok Haji Tatang yang secara keturunan memiliki darah China.
Kesucian diri manusia tercermin secara ikhlas menerima kondisi dan mengejawantahkan nilai jujur apa adanya atas takdir kehidupan yang dijalani. Nilai suci itu yang kupetik dan menjadi inspirasi pembelajaranku di ruang arsip.
Selain itu, tak ada hari, dari sosok Haji Tatang yang tidak mengingatkan tim arsip untuk sholat baik Dhuha dan fardhlu. Kebetulan memang ruang arsip berada tepat di belakang masjid Al Ikhlas.
Di tangan haji tatang, bahan non arsip yakni kertas dan berkas ikutan yang tidak masuk kategori arsip dikumpulkan sangat rapi. Isi informasi yang identik dengan aslinya, patut untuk diamankan dari pembaca yang tidak bertanggung jawab.
Di tahun 2019, catatan bahan non arsip mencapai 14,5 Ton telah berhasil dia rapikan. Meski tidak akan disebut suatu pencapaian organisasi, karena kearsipan hanya menjadi satu bentuk layanan diantara puluhan dukungan administrasi lainnya.
Bagiku, kesetiaan seseorang, meski diarea paling rendah pada organisasi, perlu diberikan apresiasi. Dari kesetiaan Haji Tatang itu menjadi pembelajaranku. Kesetiaan yang memancarkan nilai positif. Etos kerja demi organisasi Ditjen Migas.
Baca juga
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/07/02/ketertarikan-nuansa-kerja/
Kini hampir lengkap tahun berjalan, dan menarik dua orang juru mudi lainnya yakni haji mikun dan pak jon. Rekam jejak di tahun 2019 dari para juru mudi yang secara sukarela membantu kearsipan Ditjen Migas.
Diakhir tulisan ini, secara spesial kusampaikan ucapan terima kasih. Bersama tim kerja arsip Ditjen Migas, Haji Tatang dan Haji Mikun serta Pak Jon telah memberikan pengabdian demi ketersediaan arsip untuk memori organisasi dan warisan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Semoga berguna