Hak anak

Pada ulasan sebelum yang berjudul anak lanang
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/11/02/anak-lanang/

Pertumbuhan dan perkembangan anak dalam peningkatan kebiasaan baik menjadi hal indah hari hari. Thole yang sudah mau ke Mushola di tiap petang meski termotivasi bermain bersama teman sebayanya menjadikan kelegaan tersendiri.

“Thole” panggilan anak keduaku. Dia sudah mulai bisa mewarnai gambar dengan crayon atau spidol warna. Pun mulai bisa untuk melepas celana dan memakai celana.

Baru kemaren, rasa bangga ke anak mulai tumbuh. Selang berapa hari, tepatnya hari minggu ini mendapati Thole yang eek atau Buang Air Besar di celana empat kali dalam sehari.

Kenikmatan nyebokin anak mulai teracuni dengan tanda tanya dalam pikirku. Mendekati usia ke lima, Thole masih belum bisa rutin BAB di toilet. Meski tidak terlalu menuntut, tapi terus berharap si anak senantiasa dalam perkembangan moral dan mentalitasnya.

Dalam hati senantiasa memegang dan terus mencari apa hak anak. Pemenuhan hak anak ini yang kemudian menjadi pemikiran ku agar dia dapat tumbuh dan berkembang normal seusianya.

Dari hasil selancar via Internet, kudapati hak anak secara internasional dan hak anak dalam islam. Satu tulisan dalam jurnal terbitan IAIN Sunan Kali jaga Yogyakarta menjadi rujukan untuk tulisan ini.

Melalui tautan berikut 👇

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://jurnaliainpontianak.or.id/index.php/raheema/article/download/149/120&ved=2ahUKEwjHuoe5l5bmAhVZxzgGHV1XAUUQFjABegQIARAB&usg=AOvVaw3dKpIsDWwUR_aW88IPfS0w&cshid=1575263069738

Kuterawang hak anak dalam perspektif islam.

Dalam keyakinanku hak anak untuk mendapatkan perlindungan dan penjagaan terhadap siksa api neraka menjadi doktrin terkuat. Sembari berjalannya waktu, diri ini terus memaknai doktrin tersebut.

💣 Hak anak untuk mendapatkan nafkah dan kesejahteraan, kuupayakan dengan bekerjasama dengan istriku sebagai ibu anak anaku. Kondisi saat ini, sebagai ayah bukan tidak memilih sebagai tulang punggung pengusahaan nafkah keluarga. Sosok istri yang juga bekerja meniru orang tua dan mertua juga.

💣 Hak anak untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran. Saat ini, dengan keberadaan mushola, tiap petang hari diri ini telah menemui wilayah mukim yang kondusif. Pengajaran sejak mulai kecil dengan berjamaah sholat dan mengajak untuk merawat mushola.

Baru kemaren, Thole aku cubit karena dalam jamaah sholat, bercanda dengan temannya. Hati ini merasa kasian, namun kejadian telah terjadi. Harapan ku semoga Thole dapat memahami.

💣 Hal anak mendapatkan keadilan dan persamaan derajat. Menjadi tantangan dalam diriku, tatkala diberikan tiga manusia titipan Ilahi, perempuan laki dan perempuan. Si sulung yang sudah eksis diantara kakak kakaknya tak jarang menyulut perselisihan mendapatkan perhatian bapaknya.

Kemaren sore, tatkala Nasywa (anak pertama) tidak mau direcokin dalam bermain oleh Dipta/Thole (anak kedua) menyulut kemarahanku. Pertengkaran kedua anaku sampai menangis kutengahi dengan nada marah. Aku hanya ingin menyampaikan pesan kepada kedua anaku bahwa nilai kasih sayang kakak dan adik perlu dipupuk sedari balita.

Endingnya, kubersimpuh dihadapan kedua anaku untuk mendengarkan tangisan dan alasan pertengkaran mereka. Dengan sedikit ceramah kusampaikan pengalaman bapaknya tatkala kecil bersama adik. Sedari kecil, kuusahakan menanamkan nilai diskusi rasional untuk memaknai keadilan dan persamaan derajat.

Hal anak untuk mendapatkan cinta kasih. Saat ini, ku berusaha mendudukan diri sebagai pelayan anak anaku. Ketiga anak yang masih usia pra sekolah, mengantar tidur buat mereka telah menjadi tugas ku.

Si sulung yang sudah mulai lepas dari ketek biangnya, menambah tugas malam membuatkan susu botol sebagai pegangan pengantar tidur anak. Pun berusaha cinta dengan aktivitas menggendong anak.

Hak anak untuk bermain. Minggu ini Nasywa dan Dipta memohon berkali kali untuk dibelikan mainan. Sempat tertunda semalam, diri ku pun teringat dunia anak memang dunia bermain.

Pun di sela sela mengantar istri untuk belanja, beberapa kali menemui area bermain anak, sengaja kuberikan kesempatan anak untuk bermain meski cari alternatif tak berbayar.

Diakhir tulisan, sampailah pada hak anak untuk hidup dan tumbuh berkembang. Sedari menikah dan anak dalam kandungan, pemahaman ku terhadap anak berada pada area misteri. Pun dalam penguasaan anak, intervensi kekuasaan sebagai orang tua hanya sebatas manusia yang diberikan titipan.

Anak akan menjalani dan menemukan takdir sesuai dengan tulisan di laukhul mahfudz atawa kehendak si Empunya yakni Allah Swt. Sebagai bapak, tak kuasa tanpa suatu Doa dan harapan kepada Sang Pencipta.

Semoga bermanfaat

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar