
Gudeg Permata adalah tempat pertama setelah mendarat di Bandara Adisucipto. Aku hanya bisa bercerita bahwa nama Permata dari warung penjual Gudeg diambil dari bioskop bernama Permata.
37 tahun mengenal Jogja, makan Gudeg Permata dengan temen kantor dalam perjalanan Dinas Persiapan Hibah BMN ke Wonosobo.
Sejak 20.45 WIB di Garuda di CGK, perut memang sudah terasa lapar. Pas banget, sebagai pengantar bermalam di Grand Zuri Yogyakarta, seiring nasi gudeg ayam paha memenuhi lambung kecil ini.
Empat hari ini, dimulai tadi 4 Desember 2019 sampai nanti tanggal 7 Desember 2019 aku mendapat penugasan untuk pengecekan konventerkit Nelayan beserta seperangkat mesin Penggerak kapal nelayan kecil yang dibagikan di waduk wadaslintang Wonosobo.
Tim yang dinamai persiapan penghapusan BMN karena barang milik negara yang dibelanjakan oleh kantorku, Ditjen Migas sejak awal direncanakan untuk dihibahkan kepada masyarakat.
Pada tahun 2019 lebih kurang 13.000 paket mesin beserta baling baling dan 26.000 LPG 3Kg diperuntukkan untuk program konversi BBM ke BBG melalui kebijakan diversifikasi energi.
Ini adalah tahun ketiga dimana aku senantiasa mendapat panggilan tugas lapangan. Di tahun 2017, Pemalang, Pekalongan dan selayar. Di tahun 2018 ada delapan tempat antara lain Labuan Batu Utara, Samosir, Tuban, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Indragiri Hilir, dan Wonosobo serta Tapanuli Tengah.
Di tahun 2019 ini, selain kembali ke Wonosobo untuk pengecekan 361 paket konventerkit untuk nelayan, direncanakan lanjut ke Tanah Bumbu Kalimantan Selatan.
Meski bukan berada di unit substantif, kepercayaan yang diberikan kepadaku menjadi bagian perjalanan tugas kedinasan sembari mengeksplore nusantara.
Pada akhir tulisan ini, aku hanya pengen meninggalkan jejak bahwa meski berasa asing di kota kelahiran, Yogyakarta, namun tetap merasa memiliki.
Yogya-wonosobo-dieng-yogya dan nanti kembali ke Jakarta
5 Desember, Jl Margo Utomo, 00.40 WIB.
Satu pendapat untuk “Merasa asing di kota kelahiran. ”