Kebebasan Menulis

Bisa jadi tulis menulis adalah pekerjaan bebas merdeka tanpa ada suatu tuntutan y. Aku masih sering merasa terbebani jika ada permintaan untuk menulis. Otak mendesak anggota tubuh lainnya untuk mencari cari bahan agar tergambar kerangka berfikir yang jelas atas tema yang dimintakan.

Seperti hari ini, Kamis 12 Desember 2019, aku mendapati permintaan tulisan dari salah satu rekan auditor. Permintaan dengan disampaikan memiliki batas waktu. Tak ayal permintaan itu mendesak keinginan diri untuk mencari cari bahan.

Tantangan rekan auditor memang cukup menarik bagiku untuk diladeni. Namun berasa muncul nya penjajahan atas kemerdekaan dalam merangkai kata kata. Sodoran tema konventerkit untuk nelayan dan BBM satu harga dengan batas waktu 16 Desember 2019 sebagai bahan buletin di kantornya.

Pun demikian, tawaran untuk menulis pada Buletin reguler di kantorku, mengkontaminasi kemerdekaan dalam merangkai kata per kata. Tatkala mengejar tulisan tersebut maka yang muncul rasa tuntutan.

Tema permen Data Migas yang paling memungkinkan dapat kutulis dari kedudukan jabatan ku di unit kerja. Tp itu masih sebatas rasa ingin menulis saja. Bagiku menulis adalah ekspresi kebebasan.

Jadi kepikiran, empatiku kepada penulis profesional yang dikejar deadline. Kejengahan otak mereka saat tuntutan terbit harian, bulanan atau per edisi, seolah datang momok yang terus menghantui. Hantu itu mungkin saja disebut dengan Dead Line.

“Pak nurul, maaf belum bisa gabung di pertemuan warga, karena dikejar deadline” kata pak wandi. Salah seorang warga di wilayah mukim ku. Bersama pak wandi, mushola Al Ukhuwah telah dapat dipergunakan. Kesediaan ya untuk aku tunjuk menjadi ketua panitia pembangunan mushola, meski sering tak dapat hadir pada pertemuan warga karena dikejar momok Deadline di kantor nya.

Diiringi sruputan kopi dan hisapan tembakau kudapati kesimpulan yang bisa jadi menghentikan untuk menjadi penulis bayaran. Sore ini menjelang magrib kusimpulkan bahwa kebebasan menulis dan terlepas dari beban tuntutan menjadi nikmat hidup.

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar