
Dini hari ini, ku mulai lagi perenungan kecil. Terbangun karena anak pingin pipis, kulanjut untuk menulis tentang bank sampah. Dari situ aku malu, perbuatan yang sangat sepele namun berdampak pada kebaikan.
Betapa beratnya bapak bapak tukang sampah. Begitu beragam jenis sampah yang dihasilkan dari keseharian hidup manusia.
Plastik sebagai bagian dari industri pangan, semakin berlimpah. Belum lagi sampah sebagai bagian industri perawatan kesehatan. Popok bayi yang telah terpakai bercampur dengan cairan bahkan tak jarang didapati bercampur dengan kotoran Buang Air Besar.
Sisa sisa makanan yg belum terpisah dengan plastik akan berubah menjadi belatung dan meninggalkan baunya.
Kemudian setelah memposting dan membagikan tulisan tentang sampah, aku pun harus mulai memilah sampah dari dapurku.
Dari situlah terbuka betapa berat urusan dapur. Lantai yang tercecer sisa makanan, cipratan cairan mengharuskan aku mengepel lantai dapur. Dan semakin terbuka dimana beratnya si pengurus dapur itu.
Ada perempuan sebagai asisten rumah tangga yang rela diberikan honor 1.5 juta per bulan. Ada juga perempuan tangguh (istriku) yang berkali kali bergumam “serasa kaki tipis” jika telah beraktivitas di dapur.
Kegelapan sosial bukan hanya berada pada tidak terpanggil saat orang punya hajatan. Kegelapan sosial dapat terjadi dari cara pandang terhadap sampah.
Pun dini hari ini, dengan menulis sampah, lubang hati ini terhenyak dari gelapnya kepedulian. Tidak lama, botol susu anak yang telah terpakai dan cucian peralatan dapur perlu disentuh untuk memaknai lubang hati.
Lubang hati yang terdefinisi dari kecuekan laki laki terhadap perempuan nya. Sesekali membersihkan dapur semoga menutup lubang hati yang kian hari semakin menganga.