
Di penghujung tahun 2019, rasa liburan semakin terendus di minggu keempat bulan Desember. Maklum saja kebiasaan pulang ke Sleman Yogyakarta tiap dua bulanan membawa pengaruh kuat untuk meninggalkan kantor.
Terlebih dibukanya Tol Japek sejak tanggal 15 Desember 2019, menambah keinginan mencoba akses jalan berbayar melintasi Bekasi Cikampek.
Ya, pulang ke jogja identik dengan liburan ku. Bersama keluarga 👪 menikmati perjalanan kurang lebih 12 jam. Di jogja, tak ada tujuan pasti selain mempertemukan kakek nenek dengan cucu cucunya. Selain itu menengok keponakan yang umurnya tidak jauh dengan umur anak anaku.
Pernak pernik kehidupan sederhana yang menghiasi perjalanan 2019. Adakah catatan manis yang bisa kutuliskan di akhir tahun ini? Yang paling menonjol adalah keberhasilan sisi hidup bersosial dengan bersama warga sekitar untuk mendirikan mushola.
Perilaku hidup sosial, tak jarang menjerumuskan. Meski aku berusaha menangkis fikiran dan prasangka negatif, hanya karena bersifat royal, akan membawa pada kesulitan keuangan.
Pertengkaran kecil di otaku di malam itu, muncul karena beberapa setting kejadian. Ketukan pintu rumah selepas magrib membawa seorang security di perumahanku untuk melepas 1 juta dari hasil perjalanan dinas ke Wonosobo.
Kabar dari temen kantor yang membuat prasangka jelek kepada atasanku atas hilangnya calon duit perjalanan dinas ke Serpong (semoga hanya sebatas prasangka)
Bayangan honor empat orang pekerja lepas yang masih menjadi tanggungan ku di Januari nanti dalam pelaksanaan tugas di kantor.
Perbincangan rekan kantor atas perubahan birokrasi yang semakin mengerucut pada kesulitan keuangan.
Rencana kepulangan ke Sleman Yogyakarta yang setidaknya memerlukan ongkos perjalanan dan uang bhakti orang tua.
Sampai dengan memaknai pembangunan mushola sebagai perwujudan penghambaan melalui kekuatan uang.
Di faktor eksternal, beberapa cerita orang di sekitar tentang sakit pada tubuh mereka. Berbagai cara diusahakan untuk memperoleh kembali masa sehat. Tentu saja tidak terlepas cerita berjuta juta duit untuk menembus kesembuhan.
Atau pada kondisi perubahan diri seseorang karena ketidakpercayaan diri untuk bersosialisasi seperti sedia kala. Perubahan karena kesulitan keuangan.

Diakhir tulisan ini, kedaulatan diri semakin diuji dengan sinyal yang jelas berasal dari kondisi di atas. Berusaha berdaulat tentang apa yang diyakini, bahwa kehidupan ini mutlak telah dikondisikan pada sang Pencipta. Ada dan tiada uang sudah menjadi takdir saja. Mendudukkan pemahaman ku agar tidak terperdaya oleh kekuatan uang. Meski aku harus bekerja untuk mengumpulkan uang.
Sebelumnya, faham kedaulatan diri yang kuilhami, tidak memprioritaskan uang sebuah potensi untuk kita bisa mengakses peri kehidupan manapun. Peri sosial, peri pendidikan, peri keamanan, peri kesehatan dan peri budaya lainnya yang dapat diraih karena keberadaan uang bukan faham mutlak, namun menjadi akibat saja.
Kini, diri ini semakin waspada, untuk mendalami kefanaan atas arti uang. Cukup, sebelum otak ini terbakar. Bersiap diri di tahun 2020 untuk menjadi gelandangan.
Semoga istriku mau mengerti. Semoga anak anaku menjadi faham. Semoga diri ini terus tegar bahwa uang tetap sebagai alat. Uang tidak dapat menahkodai kedaulatan berfikirku.
“makane jangan jd orang sok berduit, biasa aja” kata istriku melalui pesan singkat.
Karena fahamku “uang hanya sebagai alat yang tidak bisa menahkodai kedaulatan diri” maka tak jarang diri ini semena pena terhadap uang.
Uang bukan harga diri, uang hanya harga untuk kita bisa memantaskan diri sebagai manusia. “sok berduit” menjadi dampak persepsi buruk atas faham yang kujalani.
Cukup, maka diri ini menjadikan resolusi 2020 untuk hidup menjadi gelandangan. Gelandangan yang tetap punya harga diri, bukan dinahkodai oleh uang.
Semoga berguna bagi diriku nanti😭😭😭😭💰💰💰