
Sleman, di penghujung tahun 2019
Nikmat apalagi yang kau dustakan?
Kalimat diatas adalah satu dari ribuan Ayat Nya, yang semakin menuntunku untuk mempunyai kedaulatan diri.
Di depan kedua mataku, dan terdengar di kedua kupingku, seseorang berkata “vonis terhentinya fungsi organ tubuh vital dari medis (meninggal) akan berada pada sekitaran 14 bulan lalu/ini di tahun 2019”.
Menjalarnya sel kanker di usus telah merembet ke bagian di tubuh lainnya. Dokter pun berpendapat jika harus dilakukan tindakan “operasi” , maka diperlukan transpalasi hati. “dimanakah dan dari siapakah donor hati itu?” kata pak Anto menceritakan kegundahannya lepas mendengar penjelasan dari dokter.
Nikmat apalagi yang kau dustakan?
Agar tak terperdaya karena suatu kalimat, meski berasal dari Kitab Suci, perlu kiranya mengurai potret kejadian dalam mentadaburi (memperkaya sudut pandang) agar terjauh kan dari sikap pendustaan terhadap NikmatNya
Otaku semakin terbuka bahwa medis hanya salah satu sarana menjamin kesehatan. “kanker ciptaan Allah, dan aku ciptaan Allah, jika harus bertemu dan bersama, maka janganlah saling ganggu” kata Pak Anto kepadaku untuk menggambarkan bagaimana dahsyatnya ketegaran sebagai salah satu wujud kedaulatan diri.
Hmmmm… Kanker diajak ngomong? Penyakit diajak bicara, begitu terhormat diri Pak Anto yang mendudukan ciptaan Allah, meski itu berwujud hal yang menyakiti tubuhnya.
Bahkan, ketidakberdayaan medis untuk menjadi salah satu cara penyembuhan, menjadikan sosok yang berjiwa bebas (pak anto’) masih sempat berkelakar kepadaku “banyak manfaatnya kok mas nurul dengan penyakit ku ini”
Masya Allah….. “Edaaan, Gile abis nih orang” batinku kala mendengar kelakarnya, meski mata ini harus berkaca kaca karena tersudutkan rasa empati. Masih kuat dan berani ya….dan bener bener keluar dari mulutnya bahwa “penyakit yang terkenal mematikan itu” dibilang membawa manfaat.
Nikmat apalagi yang kau dustakan?
Bahwa derita apapun masih dibawakan sebagai nikmat, tanpa harus mengharu biru dengan jiwa pendusta. Bisa jadi tempaan beban berat kehidupan telah membawaPak Anto pada pola pikir kebebasan dan membentuk kedaulatan diri.
Pikiranku pun terbawa untuk terbukanya memori batinku yg tersayat saat putusan dari medis untuk tindakan “operasi” untuk anak pertamaku. Saat itu, aku hanya pasrah yang menunjukkan ketidakberdayaan pengetahuan dan wawasan demi suatu kesembuhan yang memang harus diupayakan.
Padahal manusia punya kedaulatan untuk membuka wawasan dan pengetahuan. Ada gudang informasi dari buku, atau dari testimoni orang lain yang terekam dan terendus pada jejak digital. Bukan sekedar pasrah mengharap kesembuhan dari salah satu sarana yakni jalur Medis. Toh ada cara non medis (alternatif) atau ala tradisional dan lain lain. Intinya kesembuhan berasal dari Kuasa Allah.
Hari ini aku harus berterima kasih pada guru kehidupan (pak anto’) yang kembali menginspirasi bahwa
1. ada Kuasa Allah;
2. Ada logika keterhubungan antara Sang Pencipta dengan makluk ciptaan Nya meski itu berwujud penyakit.
3. ada kedaulatan diri dalam pola pikir manusia yang menjadi kekuatan. Karena bukan melulu pada kekuatan Medis, namun kekuatan terbesar pada kekuatan diri sendiri bersama atas Kuasa Allah untuk dapat menuju kepada kesembuhan.
Pun, pelajaran berharga untuk diri ini dapat berdaulat dengan memetakan sebagai penanggungjawab pasien/pasien atas putusan medis
a) MENOLAK putusan medis atas vonis tidak dapat dilakukan tindakan selanjutnya untuk kesembuhan karena masih ada metode kesembuhan SELAIN MEDIS
b) MENERIMA putusan medis atas vonis tidak dapat dilakukan tindakan selanjutnya untuk KESEMBUHAN karena medis hanya salah satu cara saja, dan tidak dapat menggantikan kedudukan si pemberi kesembuhan (Kuasa Allah)
c) MENERIMA putusan medis atas tindakan operasi dengan kepasrahan untuk mengharap kesembuhan
d) MENOLAK putusan medis untuk operasi demi kedaulatan manusia berpendapat “medis hanya salah satu metode penyembuhan”
Satu pendapat untuk “Berjuang, berkedaulatan diri “kesehatan””