Perjalanan akhir tahun 2019

Aku bersama istri dan ketiga anaku menjalani sepekan pada ujung tahun 2019 di Sleman Yogyakarta. Biar kayak orang orang gitu…maka dalam sepekan ini kuberikan judul “berlibur di kampung halaman”.

Persediaan kartu berisikan rupiah untuk dapat mengakses Jalan Tol kurang lebih senilai Rp. 800.000′-. Sedangkan petty Cash di Jalan dipersiapkan untuk menembus Bahan Bakar Minyak sampai dengan Rp. 1.000.000,-.

Sabtu, 21 Desember 2019

Bersiap lepas melaksanakan dua rakaat berjamaah di Mushola Al Ukhuwah VTB, baru jalan di 5.10 WIB. Pejalan pun terkesan macet dari dampak hawa liburan. Sejam berjalan sudah berada pada KM 43 tol lingkar luar Jakarta (6.10 WIB) dan tepat jam delapan pagi berhenti di rest Area 57 tol cikampek

Keluar Tol Kendal dikarenakan mempergunakan akses One Way dan sempat merasa tersesat karena harus berbalik arah sekitar 11 KM tepatnya di exit tol weleri. Sesampainya di Jabung Pandawaharjo Sleman Yogyakarta,jam 21.00 WIB, kita pun bermalam.

Minggu,22 Desember

Pagi bergegas untuk menengok paman yang mengidap kanker usuastadium 3-4. Tak berapa lama, rengekan bocah mempertemukan mereka dengan keponakan. Tak didapati Bapak di rumah Sucen, hiburan anak di Palanggi Tirta, menjadi arena bermain air.

Hobi membaca Kak Nasywa pun menyeret untuk mampir di Toko Buku Sosial Agency Jalan Kali urang. Diiringi hujan lebat sore hari, mengantar Nayla ke Sucen. Tak sengaja mampir rumah paman Amat (adik ibu) yang ditemui istrinya dengan selisih umur hampir 20 tahun.

Ngobrol di rumah kakek, diakhiri pesan bakmi mbah Ndumok melalui Go Shop (aplikasi Gojek). Aku pun tidur di rumah 🏡 yang mulai jarang ku datangi sejak tahun 2007 Nasywa tidur bersama Nayla

Senin, 23 Desember 2019

Ada sesuatu diluar kebiasaan tatkala dapat berjamaah subuh dengan mengajak bapak ke Masjid. Ketakjubanku pun datang tatkala melihat masjid yang sempat mengisi episodeku dalam proses pencarian Cpns banyak didatangi warga. Tiga shaf diisi oleh warga di RW 06 Sucenuntuk dua rakaat di awal hari.

Sarapan pagi,berwujud nasi goreng oleh adik ipar tak tersentuh. Soto pak Marto depan GOR Sleman lebih menghiasi selera sarapan. Antrian dan meja kursi yang selalu penuh di pagi hari terlebih di hari libur, teringat dimemoriku sejak 10 tahunan yang lalu.

Panggilan 📞 istri untuk manyambangi kedatangan tetangga Depok hanya ku iya kan di rumah Mertua. Tak tau kenapa, kok akhir akhir ini, semangat bersosialisasi dengan teman dan kenalan sudah berada di ujung kebosenan. Kondisi yang bersebrangan kala waktu masih jomblo dan masih punya satu anak.

Sejak semalam Nasywa bersama dengan tantenya diakhiri di Sleman City Hall. Aku pun harus menuruti Dipta yang mencari Kak Nasywa dan ketemu di Lapangan Denggung untuk bercengkrama di Jabung di sore hari bersama Kakung dan Uti. Meski agak ngambek karena masih berasa senang dengan masa bermain bersama Nayla, Nasywa pun terhibur dengan rencana main pasir dan ombak laut Kidul.

Selasa, 24 Desember 2019

Jam 7 pagi bersiap ke pantai Parang Tritis. Ketiga kali nya, dipantai yang terkenal dengan misteri Nyo Roro Kidul, Dipta tenggelam dalam keriangan bermain pasir dan ombak.

Tak kalah pula dengan si Bontot, kali perdana menginjakkan kaki diatas pasir pantai, Rara pun tenggelam dengan keasyikan bermain dengan alam. Ombak yang bergulung gulung serta air laut dengan pasir yang lembut begitu asyik untuk dijadikan arena bermain ketiga anaku.

Sejam terasa cepat berlalu hingga di tengah hari, demi panggilan perut, perjalanan pun menyasar di pantai Depok. Di barat Parang tritis terhampar puluhan perahu nelayan dan pasar ikan. Saat ini menjamur warung makan seafood yang menjajakan aneka tangkapan para nelayan.

Petang hari, tatkala Nasywa masih saja nempel dengan keponakan yang umurnya tidak jauh berbeda (selisih 2 tahun) membawa ragaku untuk kembali nostalgia dengan jamaah Masjid Asy Syifa. Meski telah berkembang dengan perluasan bangunan serta tanah, tempat ibadah tersebut menjadi kenanganku, tiga rakaat untuk magrib dan bersamaan dengan ketua Takmir mengakhiri nostalgia kilat.

Aku pun harus mendiskusikan keinginan pengiriman sedekah untuk ibuku nun jauh di alam kubur melalui pengelolaan hasil kos kosan oleh ari adiku. 2 meter persegi sebagaimana harga tanah lelang wakaf semoga menjadi cahaya dari anaknya yang masih kurang berbhakti

Lepas magrib, naik motor menyurusi jalan di sekitar sampai ke pasar malam Denggung (naywa, nayla dan Dipta) menjadi isian aktivitas dimana makan es Cream Campina di depan Indomaret Warak Lor dan berakhir di warung bakmi pak Hardi.

Rabu, 25 Desember 2019

Memori pun terkuak kala menerima pengorbanan dari ibu sambung saat merawat Nasywa di Jakarta. Jam delapan pagi, aku beserta anak dan istri menyambangi Dusun Demi, Sriharjo, Imogiri Bantul. Rumah tempat tinggal istri sambung yang menjadi pilihan bapak.

Tak dapat bertemu bapak di Bantul, bunyi telpon membelokkan arah mobil untuk nyamperin kakek (sebutan bapak untuk cucunya) di Sucen Triharjo Sleman. Keakraban dirumah dirasa belum lengkap tanpa ada suasana arena bercandaan. Meski gerimis tak menghalangi demi mencari suasana bercanda dengan tujuan Obyek Wisata Kali Urang (Gardu Pandang).

Pengalaman anak untuk bertatap muka dengan berjumpa dengan hewan liar pegunungan “monyet”, menjadi penutup perjumpaan debgan nayla dan kakek.

Kamis, 26 Desember 2019

Perjalanku pun sampai di ruko tempat pengobatan non medis. Metode sinse yang telah lama kudengar, kali ini kusambangi untuk mengantar adik mertua ke dekat tugu jogja.

Sembari menunggu, tak sengaja memasuki emperan pasar Kranggan. “nek ngango mentok, regane larang lo mas” kata penjual nasi gudeg di pasar itu. Luar biasa, begitu baiknya si ibu penjual nasi itu yang memberikan informasi sebelum terjadinya transaksi jual beli

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar