
Meski sedikit grogi untuk bersepeda ke kantor, namun ajakan temen terlalu susah untuk ditolak. Kepengecutanku untuk bersepeda, ditambah belum punya kostum. Tapi apa lah itu, tekat untuk bersepeda ke kantor harus dimulai.
Atmosfer bersepeda telah melanda dimana mana, termasuk di Sleman Yogyakarta. Pun tatkala mendapati Bapaku yang di kampung Sucen, keranjingan naik sepeda di hari sabtu atau minggu.
Beberapa kenalan juga sudah rajin bahkan menghobikan diri untuk bersepeda. Bagiku, sepeda mempunyai memori perjuangan saat menjalani pendidikan tingkat pertama. Dari 🏡 rumah ke gedung sekolahan berjarak puluhan Kilo meter kutempuh tiap harinya naik sepeda.
Sekitar tahun 1994 – 1997, mengayuh sepeda menjadi rutinitas harianku dari senin sampai dengan sabtu. Khusus untuk hari Jumat, pulang balik dua kali karena jadwal kegiatan pramuka di Sekolah Menengah Pertama.
Dua belas tahun kemudian, dan di hari terakhir tahun 2019, aku pun mengulangi naik sepeda berjarak 25 KM untuk berangkat kantor. Meski kaki terasa pegal untuk menggenjot pedal, dan sempat kepikiran menyerah, namun sampai juga di Kantor (gedung Ibnu Sutowo).
Jalan yang menurun, berpihak kepada kekuatan kedua kakiku. Sepanjang jalan Depok ke Jakarta mempunyai karakter agak menurun. “yang agak berat, nanti pulangnya” kata Dani, temen sekantor. Sore nanti menjadi tantangan ke dua. Jakarta ke Depok dengan kondisi jalan agak menanjak.
Bersepeda, capek sih… Bersepeda, nostalgia semasa remaja… Bersepeda, merasakan kenangan memori lama…. Bersepeda, merasa asing karena riuh kendaraan bermotor di jalan yang sama…. Bersepeda, merasakan minoritas yg lebih akrab, disapa oleh pesepeda lain meski belum kenal sebelumnya.
Semoga berguna