Arti Kecelakaan

Kamis, 2 Januari 2020 kudapatkan pelajaran dari kepedihan seseorang pada fisik tubuhnya. Enam bulan menjelang pensiun, menutup cerita kehidupan seseorang dengan kasih sayang Sang Pencipta meski harus berdebat dengan arti suatu kecelakaan.

Siapapun orangnya, termasuk aku pun tak dapat berlari dari kecelakaan. Kemalangan yang menimpa badan dengan rasa yang begitu sakit akan mengkondisikan orang pada gejolak batin menelusuri suatu kenyataan.

Nyatanya, keberuntungan dan kehati hatian itu mutlak meski semua sudah digariskan oleh Sang Pemberi Kehidupan. Cacian orang atas karma, azab, ujian dan cobaan atau dalam istilah Jawa yang kuingat adalah “ngunduh wohing pakarti” : “kenyataan merupakan hasil dari tindakan sebelum sebelumnya” , semoga bagian terpenting untuk selalu kuingat.

Apapun itu, yang harus kulakukan adalah menebar kebaikan untuk menuai keberuntungan dan kondisi kehati hatian. Semoga terhindar dari segala bentuk kecelakaan.

Hal diatas menjadi buah perenungan malam hari sebelum tidur. Perenungan dari kejadian siang hari di episode kehidupan di kantor.

Di awal tahun 2020, jam di mesin absensi belum genap 07.30 WIB. Setelah menempelkan jempol tanda masuk ke kantor, lokasi yang kutuju adalah melampiaskan kecanduan nikotin tembakau beserta kenikmatan buang air besar.

Tak berapa lama memasuki ruang kerja, panggilan pimpinan via telepon menyeret untuk berbincang dengan kepala Bagian terkait teman kantor yang terbakar wajahnya.

Aku pun mengkoordinir beberapa orang untuk mendatangi RSUD Tarakan dimana teman sekantor sedang terbaring dalam perawatan medis. Seluruh wajah terkena luka, panasnya minyak saat menggoreng barang dagangan mengenai kulit muka beserta kedua tangan dan kaki.

Bulu kuduk pun berdiri saat mendengar cerita temen yang lebih dulu masuk ruang inap. Selang beberapa menit, giliran ku untuk memasuki ruang perawatan. Ruang kelas tiga dengan beberapa pasien dibatasi kain menjadi saksi dimana aku harus menyaksikan kepedihan seseorang menahan sakit.

100 persen wajah terbakar panasnya minyak penggorengan. Hampir kutak mengenali wajah itu, jika tak menerima jawaban sapaan yang keluar dari mulutku. Pedih yang dialami temenku, tak sanggup tergambar dengan kata kata.

Setelah kusampaikan salam dari pimpinan, aku pun pamit dan meninggalkan rumah sakit. Bacaan doa untuk orang sakit pun meluap. Dalam hati kupuja dengan harapan semoga lekas baikan dan penuh ketabahan.

Semoga berguna

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar