Mentor Kehidupan Keseharian

“Pak, ini sudah adzan subuh?” tanya Nasywa seraya membangunkanku dari tidur. Suara adzan yang masih berkumandang menjadi pengantar jawaban ku kepada Nasywa. “ayuk kalo kakak mau ke Mushola” timpalku.

Aku mengawali hari Sabtu, 18 Januari 2020 dengan sangat spesial. Si sulung yang menjadi mesin weker (alarm) untuk dapat menghadiri jamaah Subuh di Mushola.

Sejenak tersadarkan saat kurangkai kata kata untuk di unggah di blog WordPress. Bahwa pemahaman ku “tumbuh kembang” kehidupan ini dibersamai oleh keluarga. Ada anak dan istri di sampingku setiap hari yang memberi pengaruh pada tumbuh kembang kehidupan.

Kedudukan istri dan anak bisa jadi sebagai mentor kehidupan keseharian. Tangisan Rara (anak ketiga) yang sesekali mengakhiri dari terlelapnya semalaman, pun rengekan Dipta (anak kedua) menjelang suara adzan untuk meminta susu, atau Nasywa (anak pertama) yang mengajak bangun subuh hari ini.

Sadar diri dari kekonyolan kehidupan keseharianku sejak dulu, bangun pagi 🌅 masih menjadi sesuatu yang sangat berharga dan aku dambaan tiap harinya. Kini dengan kehadiran ketiga anaku mengiringi tumbuh kembang kehidupan keseharian. Sedikit demi sedikit membenahi kekonyolan hidup yang selalu bangun siang 🤪🤪🤪.

Buah rasa penghambaan, bukti doktrin tiada kekuatan selain berasal dari Ilahi Rabbi, wujud kasih dan sayang Nya dari langit ketujuh, semakin nyata bersama kehadiran ketiga anaku.

Pada tiap tarian nafas senantiasa kuselipkan rasa penghambaan hanya kepada Allah semata. Pun tak terlepas pada hembusan nafasku hanya bisa bersikap untuk bisa menerima semua jalan hidup yang ditunjukkan Nya.

Kemampuanku hanya sebatas menerima dan menjalani semua petunjuk jalan Mu, akhir kata kutinggalkan jejak pengalaman hari ini untuk dapat kubaca disuati hari nanti.

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar