Hal yg melegakan adalah duduk di balkon rumah memandang daun pohon nangka. Sore hari sesampai di gubuk tercinta, balkon rumah menerimaku lepas sepiring nasi plus sayur masakan istri tadi pagi.
Di Balkon rumah, smartphone š± menuntun kedua jempolku, merangkai kata demi kata untuk menuliskan jejak jejak š¾ kehidupan. Urusan kantor mendominasiĀ ilustrasi yang kuunggah di blog WordPress, karena dari situlah awal berjalannya hari demi hari di pinggiran Ibukota ini.
Di Balkon, Aku pun mulai percaya diri menuliskan sudut pandangku tentang lingkungan tempat tinggal dan kejadian bersama anak dan istri. Sebagai mantan ketua RT yang bertugas selama 3 tahun dan masih sebagai kepala keluarga dengan satu istri dan tiga anak.Ā
Sore hari di balkon ini, sembari memuaskan kecanduan nikotin, aku pun menunggu datangnya waktu Magrib tiba. Kini dengan adanya Mushola di perumahan VTB, cukup meringankan langkah dalam penghambaan diri kepada Sang Ilahi Rabbi.Ā
Tiga rakaat berjamaah diakhiri dengan empat rakaat sebelum mengantarkan tidur anak anak, aku jadikan rutinitas lepas kembali di š” rumah dari tempat kerja. Aku sadar, rutinitas akan membentuk kebiasaan demi karakter meski terkadang ada kesan hanya membatalkan kewajiban dan belum dapat membalas kebaikan Sang Pencipta yang datang padaku.Ā
Balkon ini akan terus menjadi saksi usiaku menuju kepala empat. Usia yang semakin bertambah untuk mengikuti kejadian demi kejadian kehidupan.
Balkon yang menjadi monumen untuk terus membaca serta waspada atas tuntunan dari Nya.