
Kisah nabi ayub Alaihi Salam bisa jadi sebagai ilmu dan hikmah untuk terus berprasangka baik atas segala bentuk ujian dan cobaan kehidupan. “kakak Nasywa sudah pernah membaca riwayat Nabi Ayub” tanya ku kepada anak pertama.
Pertanyaan yg terkandung pesan moral bukan saja untuk anakku, namun kepada istriku yang sedang berada di kamar bersama anak anak. Dengan lantang, kak Nasywa pun menjawab “sudah pak, Nabi Ayub menginjakkan kaki dan menyeburlah air dari dalam bumi atas Kuasa Allah, untuk diminum dan mandi sehingga sembuhlah penyakitnya”
Kisah nabi Allah termaksud, menyiratkan pelajaran moral dan nilai agama dalam menyikapi keadaan dan kejadian kehidupan agar kuat dan tangguh serta ridhlo. Meskipun juga dibarengi juga dengan permohonan perlindungan agar dijauhkan dari ujian dan cobaan. Karena manusia memang butuh hidup bahagia dunia dan akhirat.
Moral dan nilai diatas, aku jalani dengan berawal dari tiga hari yang lalu saat temen hidupku di rumah 🏡 dilanda sakit. Kamis, 13 Februari 2020 kudapati kabar dari bosnya di kantor melalui pesan WA. Pun diikuti dua rekan sejawat di ruang kerjanya yang membawaku pada suatu perbincangan.
Bagiku, perbincangan melalui pesan singkat itu, menjadi pertemuan dengan orang baik diibukota seiring dengan kehidupan yang penuh prasangka buruk. Aku pun harus menyebut mereka dengan teman yang baik.
[13/2 12.20]Teman yang Baik 1: “Asw. Siang Mas Nurul, Saya Aria rekan kerjanya Mbak Evelyn di Humas ANRI, Mau mengabarkan kalau Mbak Elyn sakit. Sekarang ditangani d poliklinik ANRI,Krn sy di luar kota, Bisa menghubungi mas Isanto/ Mbak Tiara”
Setelah membaca pesan tersebut, tak kuasa menahan dengan rasa trenyuh & terharu. Aku pun segera membalas pesan singkat itu demi ungkapan terima kasih atas perhatian kepada orang yang menjadi tanggungan ku.
13/2 12.30] temen yang baik 2: “Oh iya mas, ni masih di poliklinik,Mbak elin lg istrht ini… Td dokternya tny, apa ada yg sdg dipikirkan, krn td agk tiba2”
Lepas ditangani dokter & perawat klinik di kantornya, kepastian pada dokter IGD RSUD Pasar Minggu membawa pertemuan dengan mereka si orang orang baik.
[13/2 13.08] teman yang baik 3: Dokter udh dtg, Ini kyanya harus dirujuk,takut dehidrasi dan di sini gk ada cairan infus, IGD RS Ps. Minggu ya, Kang
Keramahan mereka, teman teman yang baik telah menggantikan kealphaanku dalam menjaga dan melindungi perempuanku.Â
Bahkan rasa kekhawatiran mereka untuk mengantar ke Rumah Sakit menjadi nilai kehati hatian dalam perwujudan kasih sayang kepada makhluk ciptaan Nya.
“sini kunci motor dan STNK, nanti aku antar ke rumah lepas pulang kantor” kata temen yang baik 4 sebagai penutup pertemuan ku dengan mereka.
Aku pun segera mengulurkan tangan kanan tuk berjabat tangan dengan mereka. Meski hanya ucapan terima kasih yang dapat keluar dari mulutku, namun pelajaran berharga atas nilai pelayanan kepada sesama yang akan kubawa sampai tua.
Pun pesan dari teman yang baik 5 yang berprofesi sebagai perawat dengan kalimat “tolong pak bisa dikondisikan keadaan pasien, karena 70% lemahnya fisik (lambung) diakibatkan pada pikiran”
Akhir tulisan ini, kesadaran ku pun bertambah. Bukan saja kisah nabi Allah yang tertulis dalam Kitab Suci saja yang dapat dijadikan pijakan untuk memperbaiki diri hari ke hari. Ada pula kehadiran teman yang baik yang saling memperkuat dengan mengejawantahkan asmaul husna ar Rahman & ar Rahim.
Bahwa kasih dan sayang terhadap ciptaan Nya, sesama manusia, menjadi moral dan nilai untuk aku semakin kuat dalam menjalani kehidupan. Pun mengajarkan ku atas kewaspadaan untuk terus memohon perlindungan dan pertolongan atas kealphaanku dan ketidakbisaanku sebagai manusia biasa.
Terimakasih teman