
“Pak aku tadi baru nonton empat kali” kata Thole saat lampu kamar sudah dimatikan. Sebotol susu tak juga mengantarkan pada datangnya kantuk. Meski siangnya Thole tidak tidur siang, kantuk belum juga datang. Thole terlalu terbayang bayang tontotan film kartun.
Dengan rasa iba dan permisif terhadap “obsesi anak”, cukup lah satu tanyangan film kartun sampai dengan jam 10 malam, pikirku.
Kemudian, aku pun berada di antara tangisan bocah belum genap lima tahun dan sikap ketegasan orang tua. Pencetanku pada tombol off di remote, televisi 📺 yang tersambung pada hardisk external berisikan file video film, menjadikan Thole terguncang dan meledaklah tangisannya.
Si bontot (Rara) yang tidak protes saat televisi dimatikan, segera merebahkan tubuh mungilnya. Tak lama meledak pula tangisan Rara saat mendapati tubuh ibunya yang meringkuk lebih dulu tertidur.
Lomba menangis sebelum tidur antara Thole dan Rara berakhir juga. Beberapa kalimatku dan sikapku untuk berusaha menyampaikan pengertian kepada anak, berhasil membuat mereka tertidur. Atau mereka telah capek nangis dan dihampiri oleh kantuknya???