
Untung kebijakan WFH terjadi bukan pada 10 tahun yang lalu. Tak bisa bayangin, repotnya mendatangi warung Internet hanya untuk absen online. Satu dekade telah terlewati, Kini bukan hanya Internet yang terjangkau dan terdapat dimana saja, tapi HP layar sentuh dengan kategori telepon pintar pun bukan barang mewah berharga selangit yak hehehe 😂 😂.
So, bisa dong jika pagi ini adalah pagi WFH. Aku pun mengambil 📱 HP atau istilah kerennya “gawai”. Aku membuka link kiriman temen kantor yang terlebih dahulu mendapat giliran WFH. Link yang dikirim via Whatsapp, aku sentuh.
Berbeda dengan kerja menuju kantor, aku harus berburu dengan waktu, segera gas motor 🛵, cari jalan tikus karena lalu lintas padet. Sebelum jam delapan harus menempelkan sidik jari pada mesin absensi yang berada di lobby kantor.
Berbeda dengan WFH, tak harus buru buru bahkan hanya kepentingan sangat mendesak saja untuk datang ke kantor. Kebiasaan menempelkan sidik jari di kantor dapat diganti dengan absensi online Kementerian ESDM dengan alamat link tautan👇
https://sipeg.esdm.go.id/app_absen_online/
Untuk absen online, pastikan y HP temen temen tersedia paket data . 😄 😄. Aku mencoba sentuh link diatas. Setelah memasukkan kata sandi, aku pun mencoba absen dengan menyentuh layar smartphone tanda sidik jari (absen) yang berada di tengah. Alhamdulillah lega…. aku telah berhasil melakukan absensi, 19 Maret 2020 jam 06.13 WIB.
Satu jam perjalanan motor atau 1,5 jam perjalanan busway hanya demi absen pagi hari, telah tergantikan dengan 2 menit saja. Luar biasa kebijakan WFH. Dan luar biasa keadaan ini, hingga pimpinan memperbolehkan absen secara online. Dan luar biasa, aplikasi sipeg yang selama ini kembangkan, dapat menjadi manfaat bagi pengguna 👏👏👏👍👍
Hari kamis 19 Maret 2020 adalah hari keempat kebijakan WFH untuk ASN dapat bekerja dari kediaman masing masing. Bagiku, kebijakan tersebut meninggalkan tantangan untuk dicoba. Karena selama kurun waktu dasawarsa terakhir, baru kali ini terjadi keadaan luar biasa yang menyebabkan kebijakan langka tersebut.
Meski perasaan “sayang” meninggalkan ruang kerja di perkantoran 🏢 Gedung Ibnu Sutowo. Begitu sayang kepada kantor adalah hasil dari kebiasaan tiap pagi selama 5 kali dalam seminggu senantiasa berjibaku dan bercanda di ruang pengolahan arsip unit kearsipan Ditjen Migas (rasa sayang yang tumbuh di antara kesedihan jarang Naik Pesawat ✈ 🤣🤣🤣🤣🤗😭)
Bukan hanya sampai di perasaan sayang, tersisa perasaan “bersalah” jika tidak menyentuh objek kerja yang berada di ruangan tersebut. Pertambahan arsip yang begitu pesat, perlu diimbangi kecepatan dalam pengolahan arsip. Aku sering terhimpit perasaan bersalah tatkala kehilangan sehari atau dua hari dalam mengolah arsip. Hari pengolahan arsip kesempatan untuk mengimbangi kecepatan pertambahan arsip.
Namun demikian, aku pun sampai pada kegelisahan. “barang kali kebijakan WFH ini memperkaya sudut pandang atas pekerjaanku“. Karena sebetulnya tidak mutlak berasa kesulitan dengan dalih keberadaan obyek pekerjaan yang memang wajib berada di kantor.
Sudut pandang atas kearsipan yang identik dengan gedung 🏢 perkantoran pun dituntut luwes menerima perubahan kebijakan. Kebijakan untuk romote Working atau bekerja dari rumah menjadi tantangan kearsipan.
Diakhir tulisan ini, aku pun mencoba keseruan WFH. Agar tidak dibilang terlalu eksklusif atau terlalu ngoyo dalam bekerja di kantor. Semoga pula dapat berkontribusi untuk kemaslahatan, kebaikan bersama. Semoga Pandemi COVID 19 dapat segera terlewat.
Semoga berguna
Satu pendapat untuk “Work From Home”