
“sholat jumat dimana kemaren? “ tanya seorang tetangga di komplek ku. Pertanyaan pada dua minggu lalu saat beberapa masjid mulai menghentikan layanan pelaksanaan jamaah Sholat Jumat.
“gaya ente, biasanya juga cari cari alasan, agar tidak sholat Jumat” jawabku sembari meneruskan obrolan di tengah hari tatkala tetap bertahan di komplek dalmm suasana tanggap darurat pandemi COVID 19.
Majelis Ulama Indonesia atau MUI telah mengeluarkan Fatwa nya untuk pencegahan penularan viruscorona diseasae COVID 19. Aku sih tidak mendengar fatwa MUI tersebut secara langsung, tapi beberapa masjid telah mengeluarkan pengumuman melalui speaker 🔊.
Percakapanku diatas bisa jadi menjadi gambaran tatkala pembatasan mengakibatkan kerinduan yang luar biasa. Rindu untuk sholat jumat. Rindu untuk berjamaah di Mushola. Rindu dalam keberjamaahan.
Atau bisa jadi penampakkan sifat manusia, dimana yg dibatasi itu menarik untuk diterjang?
Namun demikian ada satu sudut pandang lain dari Kyai Haji Mustofa Bisri melalui karya sastra yang berjudul
*TUHAN MENGAJARKAN MELALUI CORONA*
Vatikan sepi, Yerusalem sunyi, Tembok Ratapan dipagari, Paskah tak pasti, Ka’bah ditutup, Shalat Jumat dirumahkan, Umroh batal, Shalat Tarawih Ramadhan mungkin juga bakal sepi.
Corona datang
Seolah-olah membawa pesan bahwa ritual itu rapuh!, Bahwa “hura-hura” atas nama Tuhan itu semu, Bahwa simbol dan upacara itu banyak yang hanya menjadi topeng dan komoditi dagangan saja.
Ketika Corona datang,
Engkau dipaksa mencari Tuhan, Bukan di Basilika Santo Petrus, Bukan di Ka’bah, Bukan di dalam gereja, Bukan di masjid, Bukan di mimbar khotbah, Bukan di majels taklim, Bukan dalam misa Minggu, Bukan dalam sholat Jumat.
Melainkan, Pada kesendirian mu, Pada mulutmu yang terkunci, Pada hakikat yang senyap, Pada keheningan yang bermakna.
Corona mengajarimu,
Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian, Tuhan itu bukan (melulu) pada ritual, Tuhan itu ada pada jalan keputus-asaanmu dengan dunia yang berpenyakit.
Corona memurnikan agama
Bahwa tak ada yang boleh tersisa. Kecuali Tuhan itu sendiri!, Tidak ada lagi indoktrinasi yang menjajah nalar, Tidak ada lagi sorak sorai memperdagangkan nama Tuhan.
Datangi, temui dan kenali DIA di dalam relung jiwa dan hati nuranimu sendiri, Temukan Dia di saat yang teduh di mana engkau hanya sendiri bersamaNya.
Sesungguhnya Kerajaan Tuhan ada dalam dirimu. Qalbun mukmin baitullah.
Hati orang yang beriman adalah rumah Tuhan, Biarlah hanya Tuhan yang ada, Biarlah hanya nuranimu yang bicara.
Biarlah para pedagang, makelar, politikus dan para penjual agama disadarkan oleh Tuhan melalui kejadian ini.
Semoga kita bisa belajar dan mengambil hikmah dari kejadian ini.
Surabaya. 22 Maret 2020 ikhtiar dan bermunajat, *marilah kita renungkan* …
Satu pendapat untuk “Renungan COVID 19”