Rumahku, Syurgaku

6 April 2020, Adakah Surga dirumah? Apakah di rumah itu berada surga di dalam nya? Apa bekerja dan belajar di luar rumah itu untuk mewujudkan surga di rumah? Benarkah keberjamahan dalam ibadah untuk meraih surga? 

Ilustrasi berikut menjadi penguji atas pertanyaan pertanyaan di atas. 

Sejak berminggu minggu yang lalu, rumah dan keluarga menjadi basis pertahanan dari ancaman makhluk yang tidak terlihat kasat mata. Ini bukan cerita serangan gerombolan pasukan alien 🛸 makhluk luar angkasa yang akan menguasai bumi. Bukan juga cerita Zombie yang akan menggigit manusia sehat. 

Pada empat minggu terakhir ini, kita bertemu dengan tragedi “pagebluk”. Suatu tragedi yang pernah mengisi cerita cerita rakyat. Tak perduli kata “rakyat” yang ditengarai dari kehidupan sebelum modern. Bahwa kemapanan hidup modern, dihadapkan pula dengan ancaman yang juga memiliki level modern. 

Liat saja penampakan hari ini, operasional di gedung sekolah dihentikan. Jam kerja perkantoran instansi pemerintah dibatasi. Bahkan dengan kampanye isolasi diri, pembatasan sosial menjadi senjata 🔫 melawan ancaman itu. Yang lebih ngeri adalah pentingnya pengendalian transmisi orang dari satu tempat ke tempat lain. Tak perduli transmisi lokal maupun luar negeri. 

Waktu itu bermula kala kepala negara sekaligus kepala pemerintahan mengumumkan dua orang Warga Negara Indonesia (WNI) yang terpapar positif COVID 19 di awal Maret 2020. Dua WNI termaksud adalah penduduk di Depok Jawa Barat. Wilayah itu adalah merupakan domisiliku saat ini. 

https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/nasional/read/2020/03/03/06314981/fakta-lengkap-kasus-pertama-virus-corona-di-indonesia

Dua minggu berselang setelah pengumuman tersebut, pada 14 Maret 2020, beberapa Kepala Daerah pun menentukan kebijakan operasional pendidikan. Aktivitas belajar mengajar dengan metode daring/jarak jauh. Anak 🧒 usia sekolah ditengarai potensial perantara penularan virus COVID 19.

Baca juga 👇 

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2020/03/14/corona-libur-sekolah/

Dua hari berselang, 16 Maret 2020 tak ragu seluruh instansi menerapkan metode Bekerja Dari Rumah (BDR) atau WFH?? Dan puncaknya pada 31 Maret 2020, saat kepala pemerintahanan menerbitkan penetapan “keadaan darurat Kesehatan Masyarakat” 

Baca juga 👇 

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2020/04/01/darurat-kesehatan-masyarakat/

Tak ayal jika berpuncak, sebelumnya berbagai pemegang orotitas pada tiap lini pemerintahan pun telah menetapkan kebijakan operasional. Berikut beberapa autentikasi arsip dari pemegang otoritas kesehatan, pendapatan negara/pajak, pemerintah daerah

  1. https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2020/04/03/protokol-isolasi-diri-covid-19/
  2. https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2020/04/03/insentif-pajak-dampak-corona/
  3. https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2020/03/31/gugus-tugas-covid-19-daerah/

Tuntutan bekerja dari rumah atau Working From Home mengagetkan kebiasaan pekerja kantoran. Kantor yang menjadi sarang pelarian dan persembunyian dari kenyataan hidup berkeluarga pun menyerua begitu kencang. Alih alih kondisi WFH mengkondisikan para pekerja agar kreatif mendekati pekerjaan kantoran. 

Baca juga 👇 

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2020/03/19/work-from-home/

Aktivitas siang dan malam hari berada rumah, menginformasikan kita terkait gejala ancaman kondisi di luar rumah. Tatkala tuntutan isolasi diri di rumah membatasi mobilitas penguatan mentalitas kehidupan, terbenturlah dengan keberjamaahan dalam pencarian serta permohonan perlindungan kepada Tuhan Sekalian Alam.

Rutinitas keberjamaahan yg dianggap oleh sebagian kecil orang ibarat buih diatas pantai bersama ombak 🌊 laut itu membawa penegasan pada renungan religi. Kerapuhan keberjamaahan ritual dan doktrinisasi keberjamaahan dihadapkan pada pencarian dan permohonan perlindungan Tuhan didalam kesenyapan. 

Baca juga 👇 

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2020/03/30/renungan-covid-19/

Sampai disini, tulisan singkat ini berakhir pada kesimpulan sempitku, kita masih perlu mendalami lagi atas informasi doktrin “rumahku menjadi surgaku

Bagiku informasi doktrin “rumahku menjadi surgaku” menjadi sangat mulia. Kondisi sosial atas dampak COVID 19 sampai hari ini, menjadi pengujianku atas doktrin tersebut. 

Penguatan mentalitas kehidupan dengan kehidupan sosial (kerja, sekolah, keberjamahan ibadah), perlu dimuarakan pada doktrin “rumahku menjadi surgaku

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar