
Pernahkah kita merasa bener benar menyesal?? Emosi jiwa berbenturan dengan kencangnya degup jantung menggerakkan ketakutan. Anak laki laki yang menjadi bagian perkembangan jiwaku, mengajari pada rasa penyesalan.
Penyesalanku sore ini, berbarengan dengan berdiam di rumah bersama ketiga anaku. Pembatasan sosial di masa COVID 19 pun, mengkondisikan aku memiliki banyak waktu untuk berinteraksi dengan ketiga bocahku.
Banyak waktu karena sudah tiga minggu harus bekerja dari rumah. Aku tinggalkan kebiasaan ke kantor di pagi hari dengan menggantikan dengan absen online. Praktis, waktu sejak bangun tidur sampai kembali tidur bersama ketiga anaku.
Tiba tiba saja hari ini meluap lah rasa emosiku kepada Thole. Sepele sih, hanya karena mencabut kabel TV yang sedang ditonton adiknya. “Setan mana yang merasuki diriku” pikirku. Kelembutan kepada anak sirna tertiup badai kemarahan.
Berada pada terpaan badai marah, kubanting tubuh Thole di atas kasur. Tak kuasa menahan amarah, intimidasi pun meledak malalui pelototan mataku. Kupegang kepalanya, dan meluaplah emosi memalui mukaku.
Gelombang kemarahan itu akhirnya mengguncang jantungku hingga berdegup kencang. Terlebih saat mengetahui tangisan Thole yang tidak bisa keluar. Isak tangis tanpa suara itu, meremukkan hati seorang bapak.
Sorotan mata penuh kebencian serta ketakutan dari Thole pun sekejap menyadarkanku. Bahwa aku harus segera kembali dengan perenungan “rumahku adalah syurgaku”
Akhirnya, maafkan aku y Thole… Bapakmu telah Khilaf. Semoga apa yang terjadi di sore ini (Jumat, 10 April 2020) menjadi bagian dari tumbuh kembang jiwaku bersamamu. Marah memang bagian dari jiwa manusia. Marah yang diikuti dengan penyesalan, semoga menjadi bagian perbaikan diriku.
Dan Khilaf ku ini, semoga dihilangkan dari memorimu, dan penglihatan kakak dan adikmu. YA allah, berikanlah ampun Mu, dan kuatkan diriku di jalan kelembutan sifatMu. Engkau lah yg maha membolak balikan hati. Jadikan hati anak anaku, bukan bersifat amarah yg tanpa kendali. Terima lah taubatku ini…