
“Tanggung jawab sosial”, adalah kalimat untuk mengajak diri sendiri dan masyarakat di sekitar dalam menggapai kesadaran sosial. Kebetulan tahun yang lalu, aku berperan sebagai ketua RT dengan kurang lebih 50 an kepala keluarga. Kesadaran diri adanya beban sosial yang harus dipukul tatkala hidup bermasyarakat.
Tahun lalu, aku masih selalu berteriak bahwa tanggung jawab, beban dan kesadaran sosial sampai dengan merasa diri sebagai penggerak sosial. Tak terasa dalam setahun yang lalu dapat menumbuhkan kesadaran sosial untuk terkumpulnya lebih dari 210 juta dan terbangunnya sarana sosialisasi dan religi (baca Mushola).
Menjelang tahun ini, tiba tiba merasa harus menyeimbangkan kehidupan sosial. Keseimbangan itu dapat dicapai dengan pengendalian. Demi pengendalian sosial, aku pun mencukupkan diri tidak lagi meneruskan jabatan sosial (baca ketua RT). Dan sejak awal tahun, dalam benakku berusaha menahan diri tidak lagi berkampanye demi kesadaran sosial.
Secara sadar bahwa kehidupan sosial dapat lestari dengan peran tarik dan ulur kesadaran sosial. Kadang harus keluar dan tak ragu untuk menarik diri demi terciptanya keseimbangan sosial.
Sedikit catanku saat berada pada lingkaran penggerak sosial, yakni tergelumutinya prasangka kepada orang orang yg belum punya kesadaran sosial. Prasangka itu tak mandeg begitu saja. Atas keberadaan orang orang tersebut, menantangku untuk mengajak mereka pada kesadaran sosial.
Tingkat kesadaran sosial ku pun telah menginisiasi dengan memberikan bukti dan contoh nyata peran dan kontribusi sosial untuk masyarakat. Pun sebelum berada pada tuntutan sebagai pemimpin sosial (baca ketua RT).
Peran dan bukti kontribusi sosial kuekspresikan dengan waktu libur untuk berfokus pada lingkungan kemasyarakatan. Bahkan puluhan juta, terpaksa kutunjukkan demi menarik partisipasi orang lain untuk memiliki kesadaran sosial.
Uraian di atas membawaku pada suatu perenungan dimana dihadapkan dengan keadaan dunia saat ini. Lebih dari 200 negara di dunia yang terjangkit Pandemi Virus COVID 19 menerapkan pembatasan sosial. Pun tak luput dinegeri yang menjadi tempat subur kehidupan sosial, Indonesia.
Kondisi pembatasan sosial, kiranya perlu menjadi perenungan dalam lingkaran Penggerak sosial. Atau kemudian akan memberikan pengajaran bagi orang orang yang belum memiliki kesadaran sosial???
Kehidupan sosial pada struktur masyarakat terendah pada level pemimpin sosial tingkat RT dan keluarga dihadapkan dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam rangka Percepatan Penanganan Corona VIRUS DISEASE COVID 19.
Setelah DKI Jakarta, melalui otoritas kesehatan di negeri ini, Menteri Kesehatan telah menetapkan untuk daerah Depok, Bogor dan Bekasi. Praktis pusaran daerah sebagai simbol kesejahteraan dituntut untuk merenungkan kehidupan sosial.
Akhirnya, kehidupan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi bahan perenungan bersama. Meski terus mewujudkan nilai sosial, baru kemaren aku pun tergerak membayarkan uang kontrakan senilai 750 ribu untuk satu keluarga yang terkena dampak sosial virus COVID 19.
Wujud perenungan pembatasan sosial yg sekaligus memperkaya sudut pandang kehidupan sosial adalah tarik dan ulur nilai sosial agar tercipta keseimbangan sosial. Semoga berguna.