
Kebijakan WFH diperpanjang hingga 12 Mei 2020. WFH menjelang dua bulan, terasa berat pada proses pemeliharaan arsip inaktif. Pemeliharaan di Unit Kearsipan Ditjen Migas dilakukan dengan manuver data dan fisik berkas inaktif (penataan dan penyimpanan arsip inaktif lanjutan).
WFH pun hanya untuk pekerjaan manuver data. Sedangkan manuver fisik mengharuskan WFO. WFH belum berdampak buruk di bulan pertama, namun terasa menghambat menjelang bulan kedua. Strategi penjadwalan petugas arsip WFH dan WFO, berdampak buruk bagi pemeliharaan arsip. Baca juga 👇
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2020/04/09/manuver-data-fisik/
Kondisi diatas dapat diperhatikan dari proses manuver berkas inaktif keuangan. Berkas keuangan adalah rekaman kegiatan pada Bagian Keuangan (unit Eselon 3), Sekretariat Ditjen Migas. Objek fisik lebih dari 230 boks dengan 1300 berkas inaktif.
Proses pengerjaan berkas inaktif tersebut sejak sebelum rilis kebijakan WFH. Aku ilustrasi kan melalui tautan 👇
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2020/03/25/indek-berkas-keuangan/
Kurangnya waktu kerja dan jumlah tenaga pada WFO, tidak dapat mengimbangi cepatnya WFH. WFO untuk fisik dan WFH untuk data. Sampai dengan hari Selasa, 28 April 2020, proses manuver berada pada tahap verifikasi fisik dan data. Keterbatasan WFO terhenti di hari ini pada fisik berkas ke 1.000(sesuai nomor definifif baru).
Patut diakui Pembatasan Sosial COVID 19, berdampak buruk dalam pemeliharaan arsip inaktif. Secara, fisik arsip yang berada di kantor (WFO) harus dihadapkan dengan metode kerja WFH.
Akhirnya, tulisan ini akan mengantarkan pada pencarian alternatif strategi untuk mempertahankan target capaian kinerja unit kearsipan. Salah satunya mempertinggi frekuensi WFO meski terus mendukung kebijakan pembatasan sosial.