
Terpendam ribuan cerita bernilai referensi. Tulisan dan angka tak terperi. Jutaan gagasan brilian dan kuat niat suci birokrat dalam membangun negeri. Inovasi demi manfaat kesejahteraan ke seluruh pelosok negeri. Cerita menginisiasi pembangunan ke seluruh penjuru negeri
Bisa dibilang angka dan tulisan, cerita tanpa arti. Terekam nya informasi belum akan jadi referensi. Tanpa pengolahan, penyajian bermetodologi serta berteknologi. Tak juga hanya karena rekaman kegiatan dan informasi. Terlebih wujud fisik pada onggokan kertas meski tersusun rapi.
Seolah cerita bernilai referensi hanya pantas ditempatkan di televisi. Bukan di ruang sepi. Informasi kebangsaan terkabar begitu seksi, jika dibumbui pembawa narasi. Namun tatkala cerita itu paripurna, barulah berujung di ruang sepi.
Zaman telah berada dalam kendali metodologi dan teknologi?
Siapa yang peduli bungkusan cerita hebat yang teranyam rapi. Dianggapnya hanya produk administrasi, akhirnya tersisihkan ke ruang sepi. Bertemulah ruang sepi dengan rekaman bisu berlabelkan produk administrasi.
Apa yang terjadi, pergumulan ruang sepi dengan rekaman bisu yang katanya bernilai tinggi?
Munculah tuntutan agar ruang sepi memintal kembali rekaman bisu (cerita fantastis bernilai tinggi), agar layak saji.
Ramai terdengar perlunya metodologi dan teknologi agar tak terdampar pada kebisuan ruang sepi.
Meski telah bermetodogi, hanya orang baru dan tersesat yang mendatangi ruang sepi. Dianggapnya, ruang sepi, bakal membantu mengetahui.
Metodologi itu ditengarai dari doktrin administrasi. Para Mufasir pun berpendapat ruang sepi perlu metodologi dari ilmu informasi dan dokumentasi.
“ruang sepi memendam cerita fantastis bernilai tinggi” teriak ilmu informasi dan dokumentasi. Namun ruang sepi masih jadi anak tiri.
Merasa butuh eksistensi, ruang sepi pun menari nari demi pengharapan dan harga diri. Mungkin terprediksi, ruang sepi hanya menjadi saksi pencarian jarum dalam tumpukan jerami.
Apakah ruang sepi memang tetap harus sepi? Apa perlu mempertanyakan metodologi kembali? Kepada ilmu administrasi yang berkembang kepada manajemen atau pada ilmu informasi dan dokumentasi?
Yang patut diakui, cerita bernilai tinggi sangat butuh preservasi. Bukan semata mata dapat mengalir ke ruang sepi. Cerita tak semua perlu intervensi, ilmu budaya telah memprediksi.
Budaya bangsa ini, ruang sepi terus dibanjiri produk administrasi. Hanya seperti jarum dalam jerami yang akan bernilai tinggi. Apa Jarum seukuran jerami? Toh metodologi dan teknologi hasil budaya manusia dalam berimajinasi
Akhirnya, tulisan ini hanya akan menggambarkan ruang sepi yang hanya butuh Dedikasi. Seperti COVID 19 mengajarkan arti ruang sepi. Ceile…. Santui…. Hihihi… Dedikasi untuk lebih berarti meski berada di ruang sepi
Kereen… pak Nurul narasi nya.
SukaSuka