
Mendampingi takdir pendidikan untuk Kak Nasywa
22 Juni 2020 adalah hari pertama sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh Otoritas Pendidikan secara nasional untuk memilih Sekolah Dasar (SD) Tahun Ajaran 2020/2021.
Catatan ringkas ini akan menyimpan gambaran kondisi saat ini dalam pengambilan keputusan. Putusan pemilihan sekolah dasar untuk Kak Nasywa. Berbagai pilihan SD sedari status negeri dengan citra pendidikan biasa. Atau SD Swasta dengan citra lebih dari biasa.
SD Negeri adalah pilihanku tatkala aku harus dihadapkan dengan citra biasa dan citra luar biasa sebagai institusi pendidikan. Kecenderunganku untuk menjadi biasa di tengah tengah masyarakat, bisa jadi motif dalam pilihanku tersebut. Hal itu semakin kuat, tatkala melihat sekilas kondisi mental Kak Nasywa yang cenderung Pemalu untuk tampil di depan umum.
Atau mungkin sudah terjalin Cemistri, antara aku dan Kak Nasywa. Dia pun mengiyakan rekomendasi pilihan sekolah negeri.
Disisi lain, ada pendapat Sang Ibu yang harus aku konfirmasi atas pilihan di Sekolah Negeri. Citra sekolah negeri dimata ibunya Nasywa adalah, kurangnya pendekatan agama. Pendapat ibunya Nasywa pun aku anggap hal yang wajar.
Selama ini telah terjadi dikotomi yang begitu luas untuk melihat agama. Dikotomi bahwa yang agama itu syarat dengan simbolisme yang bersumber dari Kitab Suci. Misalnya mengaji, ibadah yang sifatnya khusus, adab perilaku yang ke arab araban. Sebagaimana fenomena kehidupan saat ini, tatkala simbol kerudung atau jilbab atau hijab telah mampu menjadi simbol pembeda antara yang beragama dan yang kurang beragama.
Meski aku anggap wajar, namun dalam pengertian dan pemahamanku, bahwa agama itu tidak bisa menjadi dalih pembedaan citra sekolah. Pembedaan citra sekolah antara biasa dengan luar biasa berada di kurikulum. Apakah nanti seorang anak dapat menjalani padatan kurikulum yang seadanya atau yang komplit/lebih variatif.
Pungkasan, dalam dua hari kedepan, sampai 24 Juni 2020, akan menjadi titik tolak takdir pendidikan kak Nasywa. Sejauh mana orang tua dalam menemani si anak dalam merengkuh takdir tersebut?
Aku yang berperan sebagai bapak untuk Kak Nasywa, tetep berada pada pilihan citra sekolah biasa. Karena pembelajaran itu akan datang seiring dengan kehidupan yang Nasywa terima. Kehidupan yang selalu dituntun oleh Sang Pencipta. Semoga Kak Nasywa selalu dalam bimbingan Allah semata. Sedangkan orang tua hanya mampu untuk menamani dan mengantarkan hanya sampai pada gerbang pendidikan. Kak Nasywa bersama Allah lah yang akan menganyam pendidikan yang lebih sejati.