Fisik VS Nilai Arsip

Arsiparis masih berkutat pada aspek fisik materi arsip. Aspek fisik materi arsip pun menunggangi narasi sejak kebijakan sampai dengan praktik kearsipan. Bahkan pendekatan fisik sangat terasa di antara pola pikir para arsiparis. 

Perubahan kondisi seperti masa Pandemi atau wabah penyakit yang mengancam kesehatan masyarakat, bisa saja berdampak fundamental terhadap kearsipan hingga dapat keluar dari zona aspek fisik materi arsip. Misalnya dengan metodologi Literasi dan numerasi dalam khasanah praktik terapan saat ini, aspek fisik materi arsip dapat di skip atau dilewati demi merengkuh nilai yang terkandung dan informasi yang terekam dalam arsip. 

Kenapa kearsipan kental dengan nuansa aspek fisik materi arsip? Nalarku pun terantuk pada kaidah umum dalam kearsipan tatkala keterkaitan satu sama lain antara Struktur, Isi dan Konteks kegiatan. 

Pandangan penjagaan nilai kearsipan sejak nilai Administrasi, Legal, Finansial, Resherc, Edukasi sampai dengan Dokumentasi atau yang biasa disingkat dengan ALFRED, tetap berpatokan pada keterkaitan struktur arsip. Dimana struktur arsip memiliki patron secara fisik. 

Sebut saja bentuk naskah penetapan kebijakan berupa peraturan atau keputusan, nilai hukum ⚖ yang berada di dalam arsip terkait erat dengan struktur naskah dinas arahan dan naskah dinas penetapan. 

Namun demikian, fenomena era industri 4.0 dan kondisi masa Pandemi memantik keras kearsipan untuk menggeser struktur arsip konvensional kepada struktur arsip digital. 

Pada strukturul konvensional, pemaknaan kaidah kearsipan (keterkaitan struktur, isi, dan Konteks kegiatan), aspek fisik materi arsip sangat kental dan susah untuk mencair. Sangat beda di tiga bulan terakhir pada masa Pandemi, telah nampak pergeseran ke aspek nilai kearsipan (meski tetap berusaha untuk mempertahankan aspek materi fisik arsip) 

Pungkasan, tulisan ini akan menyederhanakan pendapatku atas tiga wilayah yg menghabitasi kearsipan yakni administrasi ke manajemen, dokumentasi dan informasi, serta budaya kesejarahan bukan lagi semata mata berkutat pada simbolisme struktur dalam batasan fisik materiil arsip.

Pada wilayah administrasi dan manajemen, kearsipan sudah tidak lagi risih dengan pengakuan struktur digital dalam keabsyahan dan keunikan suatu arsip. Wilayah dokumentasi dan informasi menguji diri pada praktik pengklasfikasian arsip dengan hadirnya metode/pendekatan literasi dan numerasi. Dan pada wilayah budaya kesejarahan, nilai sosial dan kemanusiaan menjadi momentum baru restart pemaknaan nilai dan simbol kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. 

Semoga berguna 

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar