Jiwaku di Mushola 

Enggak tau apa benar atau salah. Dan enggak tau kenapa hari hari suka untuk meluangkan waktu di Mushola. Sebetulnya bukan mushola saja, tapi satu tahun terakhir ini, ada mushola di dekat rumahku. Dan tiap hari, ku rapikan mengepel dan beberes mushola. 

Sejak adanya Pandemi, aku tergerak untuk mendisinfektan lantai mushola. Bahkan tiap hari. Sebelum nya, lantai aku pel dengan air biasa, dan pada pel kedua aku pergunakan disinfektan yang dibelikan istri. Dan sudah seminggu ini, kupergunakan vakum cleaner untuk mengganti pel pertama. Alhasil, debu dan rambut serta tinggalan benang sajadah ikut tersedot mesin penyedot. 

Mushola mempertemukan jiwaku dalam kehidupan sosial. Kini bukan hanya di hari sabtu dan minggu, posisi senggang di rumah senantiasa ada mushola di waktuku termasuk di hari Jumat. 

Empat jumat terakhir, aku pun ambil WFH. Fleksibelitas hari kerja dan jam kantor, sangat memungkinkanku untuk berada di rumah pada hari Jumat. Meski tidak libur, namun keberadaan fisik di rumah menjadikan kesan bahwa hari Jumat menjadi hari lebih bebas. Di situlah bertambah hari untuk berada di Mushola

Pungkasan, jiwaku ada di Mushola, bukan sebagai tukang ibadah seperti pak haji dan ustaz atau semacamnya. Selalu meluangkan waktu di Mushola, bagiku mengalir begitu saja. Semoga ridloku menjadi ridhloNya. Menjadikan mushola menjadi tempat kedua setelah rumah. 

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar