
“Berapa ya.. pembaca tulisanku hari ini? cek ah statistik jumlah pembaca tulisan di minggu ini ah” bisik hati. Apakah bisikan hati seperti itu juga menerpa temen2? Aku kok begitu y, di tiap harinya. Apakah itu wajar y?
Otaku pun terus dibayang bayangi pertanyaan pertanyaan itu. Memantau jumlah pembaca tiap harinya dan menargetkan puluhan pembaca.
Membagikan tulisan ke beberapa WAG untuk meraup jumlah pembaca. Men share tulisan di Facebook demi menjaring sebanyak mungkin pembaca pun aku lakukan. Sehari tiada berlalu tanpa perhatian membuat satu tulisan mempromosikan dan memantau capaian pembaca.
Sesaat rasaku pun berbisik bahwa ini tidak baik. Nalar bergejolak menolak kebiasaan diri. Namun jarang si nalar membela rasaku, alih alih semakin mendukung kebiasaan. Disini aku sebut kebiasaan berulang tanpa mekanisme nalar. Perbuatan yang terus berulang bahkan diatas titik kesadaran.
Hari demi hari terus terpancing untuk mengkondisikan agar tulisan yang di unggah pada blog dapat terbaca sebanyak mungkin. Fenomena apa ini? Apakah rasaku “kondisi tidak wajar” tak didukung oleh nalarku. Kenapa nalar yang notabene kondisi dalam sadar kalah telak dengan kebiasaan diluar kesadaran?
Rasa, nalar, dan kebiasaan belumlah sinkron dengan kondisi sebenarnya. Apakah ini yang disebut pengaruh media sosial? Apakah aku sudah berada pada kondisi selalu terpacu untuk menggiring orang agar sesuai dengan keinginanku? Apakah aku berada pada bangunan pencitraan, dimana yang aku mau dipandang hebat oleh orang lain?
Tulisan ini hanya akan menjadi catatan renungan diri, atau boleh jadi sebagai bagian proses meneliti diri sendiri.
- Setiap hari, aku terpacu untuk posting tulisan demi predikat “tiada hari tanpa tulisan“. Meski pada akhirnya juga harus menyerah karena tiga hari sedang ada gangguan kesehatan.
- Hari hari, aku selalu penasaran akan jumlah pembaca. Fasilitas statistik jumlah pembaca pada WordPress selalu menjadi langkah saat memegang gawai.
- Aku pun sudah berada pada kondisi untuk menargetkan jumlah pembaca dengan cara membagi pos baik di beberapa WAG dan Facebook.
- Sesaat kembali teringat, tujuan utamaku dalam menulis di blog yakni sebagai dokumentasi pribadi. Namun terlumuri pengaruh bahwa menulis di blog menjadi bagian proses pembangunan citra diri.
- Pergolakan yang terjadi antara rasa dan nalar serta kebiasaan diluar kendali diriku. Rasa ini sudah menghakimi bahwa aku menjadi korban pencitraan melalui tulisan. Nalarku pun mendukung rasa namun senantiasa lepas kontrol dalam praktik dan kebiasaan harian.
Pungkasan, aku mulai mendefinisikan titik kewibawaanku dalam menulis berada pada ketulusan diri. Lebih tepatnya berusaha tulus. Tulus, jika aku tak mendapatkan sesuatu dari orang lain atas tulisanku. Meski tak menolak jika sesuatu itu datang kepadaku.
Akhirnya, aku pun putuskan biarlah semua terus mengalir. Benar atau salah, jadi korban sosial media, merasa diperbudak atas jumlah pembaca, sampai menyebut diri dalam proses membangun citra diri, biarlah bercampur baur dalam kegelisahan otaku. Ini perjalananku atas kehidupan di dunia.