
Assalamu’alaikum. Pak Nurul. Mohon maaf menyampaikan ke Bapak, Alhamdulillah sudah ada pengumuman hasil dari seleksi, saya diterima untuk bagian Document Controller dan Record Manager dibawah Divisi IT salah satu Perusahaan Migas. Terima kasih atas doa dan semangatnya, karena sudah jadi perpanjangan tangan dari Allah untuk membuka salah satu jalan impian saya. Minta doanya ya, Pak, semoga saya lancar, aktif, kontibutif dan bisa kasih upaya terbaik saya atas kesempatan dan amanah ini” tulis Dinda via Whatsapp.
Pena WA itu menjadi bukti dalam peran sebagai agen dalam kaderisasi petugas arsip. Begitu juga sebagai angsuranku atas hutang budi baik yang aku telah petik.
Ada kata “kaderisasi petugas arsip” dan kata “hutang budi”. Ya, merasa diri terbentuk dari kearsipan, beberapa lulusan kearsipan kugaet untuk bergabung pada ruang kearsipan yang telah berhasil kujalani.
Bagiku, membagi ruang kearsipan dapat membuka akses kerja kearsipan. Ruang kearsipan menjadi kawah candradimuka diluar bangku kuliah kearsipan. Ruang kearsipan mempertemukan kebutuhan dan permintaan tenaga kerja kearsipan
Ruang kearsipan memperkaya sudut pandang para lulusan kearsipan. Meski identitas kearsipan melekat pada birokrasi, namun pembuktian Dinda dapat bergabung pada perusahaan Energi, cukup membuktikan esksitensi ruang kearsipan.
Ruang kearsipan ini aku buka untuk para calon lulusan kearsipan dalam episode PKL atau Praktik Kerja Lapangan dalam menghadapi penyusunan Tugas Akhir. Ruang kearsipan pun menjelma perekrutan anak magang setelah lulus kuliah kearsipan menghadapi status sebagai pekerja tetap.
Ruang kearsipan ini berada pada pelaksanaan kegiatan kearsipan secara swakelola. Perlu pemikiran dan pertaruhan serta kesempatan bahkan dukungan untuk mencipta kegiatan kearsipan swakelola yang menghasilkan ruang kearsipan. Poin yang perlu mendapat perhatian adalah kepercayaan diri dalam peran organik dalam struktur organisasi.
Akhirnya, hutang budi pada jalan baik, telah tertunaikan dan menghasilkan satu demi satu bukti. Aku tidak memakai istilah Dharma perguruan tinggi, karena merasa pada simpul paling jauh dari institusi pendidikan tinggi itu. Simpul tak terakui resmi, karena hanya dalam simpul ikatan emosional kesamaan almamater.
Simpul yang aku bisa jalani dengan menyampaikan informasi, menjembatani dan mengantarkan mahasiswa kearsipan sampai pada ruang kearsipan. Yang aku bisa jalani membersamai para lulusan kearsipan untuk sampai pada ruang kearsipan.
Pungkasan, semua itu tak bisa kulakukan tanpa ada komunikasi dalam ikatan emosional semasa di bangku kuliah kearsipan. Paling akhir di tulisan ini, tiada lain adalah pesan teruntuk teman angkatan Kearsipan UGM tahun 2002, Mas Timbul Wisnu Adi (PNS Kemenpora Jakarta) , “mbul tuh satu adik kelasmu jauh, telah berhasil mendapat impian kerja di perusahaan Migas dari informasi yang telah kau berikan”
Semoga bermanfaat