
40 Tahun Perkembangan Usaha Pertambangan Migas, adalah buku yang menggambarkan kemigasan di Indonesia. Begitu juga buku yang berjudul 100 tahun perminyakan di Cepu. Kedua buku langka tersebut, kini dicari dan ditelusuri.
Melalui atasan langsung dan juga pejabat pengawas pada urusan informasi serta kehadiran arsiparis madya KESDM di Ruang Arsip Ditjen Migas, terasa sekali usaha pencarian buku terbitan kementerian yang menangani sumber daya alam di Indonesia.
Pencarian buku yang berumur lebih dari seperempat abad itu telah menggambarkan padaku tentang berharganya informasi memori kolektif. Terekamnya informasi pada institusi pemerintahan dalam kerangka pelaksanaan tugas dan fungsi.
Sebagai deseminasi informasi, penerbitan buku oleh instansi seolah menohok pemahaman kearsipan bagiku. Selama ini, nalar kearsipan yang kupergunakan mendudukan buku bukan sebagai objek kerja kearsipan. Buku merupakan bahan pustaka. Buku yang menyatu pada ruang arsip, kita sisihkan untuk kami rencanakan di transfer ke perpustakaan.
Akhirnya, sejak saat ini, nalar kearsipan ku pun mendapatkan pengayaan agar dapat mempertahankan fisik rekaman deseminasi informasi tersebut. Setidaknya buku terbitan langsung dari instansi yang menjadi naungan kerja kearsipan. Bukan buku dari instansi lain atau terbitan lainnya, karena tentu kearsipan harus memperhatikan prinsip asal usul dan prinsip aturan asli.
Pungkasan, rekaman informasi memori kolektif kementerian yang telah dibuku kan menjadi satu enggel lain dalam menjamah pemanfaatan rekaman kegiatan instansi dalam menjamin hak akses demi keadilan dan kesejahteraan sosial.