
14 Agustus 2020, aku menginjakkan tanah Palembang melalui Sultan Mahmoed Badarudin 2, pintu masuk tanah leluhur, Kerajaan Sriwijaya. Palembang termasuk kota tua di Indonesia, dimana sejak ribuan tahun lalu telah menjadi tempat berlangsungnya peradaban manusia.
Bahkan, Kota Palembang yang selama ini hanya kukenal dengan makanan Khas “empek – empek”, ternyata selama ratusan tahun menjadi wilayah kesultanan sampai datangnya Belanda.
Kedatanganku ke Palembang ini menjadi perkenalan singkat sebagai bonus semangat membersamai persahabatan. Jalinan timbal balik dengan manusia di sekitarku. Teman yang selalu membantu atas beban tanggung jawabku dalam pekerjaan.
Tulisan ini akan menjadi catatanku, membersamai para sahabat/manusia/teman/anak/tim di pengalamannya naik Garuda Indonesia. Seolah kekuatan dari wilayah yang memendam nilai historis panjang membela rasa kebersamaan dalam keterbatasan.
Terbatas dari kompetensi pengadministrasi pada urusan administrasi pembeayaan. Terbatas pula dalam pengalaman pengurusan dan mengoperasikan sarana kerja. Terbatas kelihaian mengkoordinasikan antar simpul kegiatan. Terkuak setelah berada di pulau seberang dan menaiki kendaraan burung besi simbol prestise.
Akhirnya, aku pun mengembalikan keajaiban ini pada Sang Pemilik Kekuatan. Bijaku pun berbisik, “inilah buah jiwa kesetiaan”. Bahkan tafsirku atas perkenalan dengan Palembang ini semakin menunjukkan “Gusti Allah, Mboten Sare”