
“ora dho melu, iki? ” sapa Si Penjual kepada Si Pembeli saat menyerahkan sebungkus pesanan. Sembari menanyakan total harga dua ekor lele goreng kremes dan satu potong ayam goreng, si pembeli menjawab, “iyo e mas, bocah bocah di rumah“
Hampir setiap kali kedatangan Si Pembeli di warung kaki lima itu, Si Penjual pasti menanyakan anak anak yang sudah tidak diajak. Sebelum datangnya Pandemi, tiga anak Si Pembeli menjadi pemandangan bagi Si Penjual saat menunggu menu pesanan selesai disiapkan.
Mungkin pemandangan itu sangat berbeda bagi Si Penjual. Pemandangan yang tidak dilihatnya pada pembeli yang lain. Pemandangan tiga anak yang masih balita di atas motor bersama Si Pembeli saat menunggu menu pesanan selesai dipersiapkan oleh si penjual.
Dari cerita di atas, nalarku melahirkan tanda tanya ❔. Apakah sapaan kepada Si Pembeli itu merupakan strategi penjualan? Apakah sapaan itu mempunyai maksud agar terbina keakraban antara penjual dengan pembeli? Apakah sapa Si Penjual itu dapat mengkondisikan kedatangan pembeli di warungnya bersamaan dengan persaingan antar warung kaki lima?
Di hari Selasa 18 Agustus 2020, si Pembeli pun kembali mendatangi warung Si Penjual itu. Tidak seperti biasanya, ia menunggu hampir 30 menit. Riuh ramai warung kaki lima sejak area jualan direnovasi oleh pemilik lapak. Penampakan renovasi bangunan semi permanen yang terlihat lebih bersih dari sebelumnya, menambah deretan antrian para pembeli.
Setelah menunggu lebih dari lima orang termasuk OJOL, Si Pembeli itu pun mendapat giliran. Menu pesanan yang telah selesai disiapkan pun diserahkan kepada Si Pembeli seraya berkata “ora dho melu, iki? ”
Sapaan khas dari Si Penjual itu pun menyudahi transaksi setelah ucapan terima kasih dan uang kembalian yang diserahkan kepada Si Pembeli.