
Mie ayam, tersimpan dalam memori otaku. Hidangan favorit sejak pertama kali bisa jajan di warung. Lupa kapan pertama kali lidahku mencicipi Mie Ayam. Bisa jadi di tahun 1994, dua puluh enam tahun yang lalu.
Kini, tiap kali kepulanganku ke Sleman, membawa cerita Mie Ayam. Meski di tanah perantauan Jakarta mie dicampur ayam banyak dijajakan oleh penjual, namun tak menggantikan kenangan lidah mie ayam Yogyakarta.
Jumat, 21 Agustus 2020. Aku pun terbawa oleh ajakan bapaku untuk menyatroni Mie Ayam Dam. Sesampainya di lokasi, terbaca tulisan Ibu Edi Sutrisno. Tidak jauh dari ujung jalan raya Imogiri barat pada wilayah Desa Kebonagung Bantul, terdapat dua pasang bangunan joglo dan ramainya para penikmat mie ayam.
Hari ini, kudapati rasa mie ayam Yogyakarta dg pecah mrica di tiap sruputan kuahnya. Warna coklat kehitaman potongan ayam bersama mie dan potongan sawi serta empat ceker memenuhi lambungku. 90 ribu untuk sembilan mangkuk dan delapan gelas minum.
Tak jauh dari warung mie ayam Edi Sutrisno, aku pun melihat beberapa penjaja mie ayam serupa di sekitar bendung Tegal. Keramaian warung mie ayam di spot berkumpulnya warga bantul. Kehangatan ramah dak sederhananya kehidupan di sekitar persawahan.