Kisah Keteladanan, Arsiparis Poltekes Negeri di Yogyakarta 

entah aku itu beruntung atau apa?” celentuk Evri saat aku temui di kantornya, Poltekes Kementerian Kesehatan di Yogyakarta. Pertemuan dengan sosok perempuan yang menyandang predikat terbaik pada kontestasi arsiparis teladan nasional tahun 2019. Jumat 4 September 2020, mengantarkanku pada kalimat “kerja keras dan keuletan dalam mengabdi kepada institusinya telah menginspirasi kearsipan, bahkan menjustifikasi dirinya pada level nasional” 

Tiada yang ujug ujug, sejak bergabung dengan Poltekes Kementerian Kesehatan di Yogyakarta, pada penghujung tahun 2010, lulusan ahli madya kearsipan UGM tersebut menjalani satu nilai luhur dalam berkerja. Keluhuran budi pekerti dalam bekerja dengan datang selalu lebih awal dari pegawai lainnya. Selain itu, perempuan yang kukenal sebagai kakak kelas itu senantiasa berusaha menuntaskan apapun yang dianggap sebagai pekerjaan di unit kerjanya.

Tak heran, jika manajemen Poltekes mengamini setiap pinta dari passion kearsipan yang dia kantongi dari hasil kuliah tiga tahun pada Prodi Kearsipan di Bulak Sumur Yogyakarta. Bersamaan dengan Momentum Gerakan Nasional Sadar dan Tertib Arsip pada Kementerian Kesehatan, tepatnya tahun 2018, passion kearsipan yang ia pendam selama enam tahun (2011-2017) dalam jabatan arsiparis, sedikit demi sedikit terealisasi.

Inisiasi kearsipan yang dibawakan mbak Evri, bermula dengan memanfatkan rak rak arsip dan roll opek yang tidak dimanfaatkan dengan ruangan seadanya. Kini berkembang menjadi Records Center Poltekes Kementerian Kesehatan Yogyakarta. Bahkan saat ini terus menyasar penyediaan sarana dan prasarana kearsipan yang baru pada seluruh unit kerja. Semua berkat keuletannya sebagai staf dalam peran turut mengawal program kerja anggaran di unit kerjanya. 

Tantangan berat adalah dengan tidak melupakan sampiran pekerjaan unit yang sama sekali tidak bersingggungan dengan job desk sebagai arsiparis” , tuturnya. Bahkan ia rela mengarsip diluar hari kerja dan tak menghiraukan kocek pribadi demi terjaganya peran serta untuk terus mendukung pencapaian target kinerja institusi (notabene unit kerja non kearsipan) 

Akhirnya, perbincanganku bersama sang teladan itu harus terputus dengan kumandang adzan. Dari Satuan Kerja di bawah BPSDM Kementerian Kesehatan itu, nalarku terantuk pada kalimat “Jika hanya teori kearsipan, pemikiran sektoral kearsipan semata, pun pendekatan prosedural kearsipan, disampaikan berbusa busa, diteriakan sekencang kencangnya, tanpa bukti kerja dan peran yang nyata untuk institusi, hampir mustahil terjadi, arsiparis yang berkearsipan”. 

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Satu pendapat untuk “Kisah Keteladanan, Arsiparis Poltekes Negeri di Yogyakarta 

Tinggalkan komentar