
Sepuluh tahun terakhir, hari hariku terhiasi dengan melewati Jl. HR Rasuna Said. Pada pinggir jalan di Jakarta Selatan, berdiri pusat pusat perkantoran termasuk Kantor Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi yang menaungiku sejak tahun 2009.
Banyak cerita di jalan ini, misalnya hampir berkali kali kena tilang polisi di Jalan ini. Cerita lain adalah kemacetan lalu lintas yang kemudian diberlakukan sistem ganjil genap. Kemacetan di Jalan Rasuna Said pun berkurang sejak underpass Perempatan Kuningan mulai dioperasikan.
Jalan ini menjadi jalur Busway sejak pertama kalinya beroperasi (koridor dukuh atas ke ragunan, dan Ragunan ke Monas). Setelah selesai berdiri tiang pancang dan jalur LRT yang tepat di atas Jalan HR Rasuna Said, kepadatan lalu lintas kembali lengang.
Terlebih di masa Pandemi COVID 19, tiada kepadatan yang berarti saat aku melewati Jl HR Rasuna Said. Akhirnya, perenunganku di sore hari setelah melewati jalan ini, sampai pada sosok Hajjah Rangkoyo Rasuna Said.
Nama Jalan yang dipergunakan untuk mengabadikan tokoh nasional putri asal dari Sumatera Barat. Tokoh Nasional yang pandai berpidato. Dari sumber berita online, isi pidato menjadikan Beliau terkena Speek Delict (berbicara menentang Pemerintah Belanda)
Sumber bacaan https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/ptqcpo313