Sarabba Makassar

Geleng kepalaku, saat mendapati suasana malam minggu di Kota Makassar pada masa pandemi. Minuman sarabba dengan singkong goreng di meja, seolah melupakan keganasan Covid19 yang diceritakan di Televisi.

Hampir ratusan orang, silih berganti di warung kaki lima yang tak jauh dari Pantai Losari. Sejak paruh baya sampai bocah. Kedatangan dalam ikatan keluarga, pertemanan, balutan asmara dan seterusnya. Warung sarabba Sulawesi Selatan sebagai arena merengkuh kehangatan diantara mereka. 

Dari pulau Sulawesi, nalarku meluas dalam penalaran akan kekhawatiran ancaman bencana non alam. Tepat di kerumunan manusia pada warung Sarabba Tempo Doeloe 39, aku pun tenggelam dalam riuh suara perbincangan bersela teriakan pramu saji atas pesanan para pelanggan. 

mungkin ramai karena malam minggu, ya mas…” tanyaku kepada saudara yang mengajakku mendatangi warung Bandrex Khas Makassar itu. Mas Heri pun menjawab “setiap malam ramai, sempat sepi karena empat orang pedagang nya positif corono” 

Gubrak….😄, lah kok…… Aku pun hanya bisa geleng kepala dengan menyembunyikan rasa kekhawatiranku. Berita Corona di media dan pembicaraan tokoh ternama itu tidak begitu ngaruh disini y…. Bahkan orang bermasker 😷, menjadi terlihat asing. 

Akhirnya, berharap dari kandungan segelas sarabba yg rasanya lebih pedas dari bandrex dapat menangkal Virus Corona Disease COVID 19. Terlebih sarraba panas dicampur dengan telur setengah matang. Tak lupa singkong goreng yang masih panas dilengkapi cocolan sambal. 

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar