Anak, Sisi insan Sosial

Sejak jumat, 18 September, anak anaku sudah tidak lagi bermain di luar rumah. Kondisi lingkungan sosial dalam bencana nasional non alam semakin mendekati rumah tinggal. Dalam rangka memberi kenyamanan kepada tetangga lain, aku dan istri pun berusaha mengkondisikan untuk tidak meninggalkan rumah.

Maksimal, ketiga anaku hanya bisa keluar sampai depan rumah saja. Persis di pelataran rumah, itu pun dalam pengawasanku dan ibunya dan nyaris tidak lebih dari satu jam. 

Kebetulan, aku dan istri mendapatkan kesempatan yang hampir sama untuk bekerja dari rumah. Kembalinya penerapan pembatasan sosial secara ketat oleh otoritas pemerintahan di Ibukota Negara Jakarta, menjadi kebijakan yang menyulut pengamatan lebih dekat terhadap kebiasaan anak di rumah.

Seperti ilustrasi tulisan ini, aku jadikan dokumentasi pengamatan sempitku atas pembiasaan saling berinteraksi. Sebagai pendamping anak, tentu banyak orang tua yang berangan angan, dipunyainya oleh anak akan kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial. 

Kita pun hanya bisa menyikapi kondisi kehidupan pasca kedatangan virus Corona Disease COVID 19 di Indonesia. Dampak nya sudah terasa, pun tidak terlepas dari pembiasaan interaksi antar anak. Namun yang masih melegakanku adalah, dari ketiga anakku berselisih usia yang tidak begitu jauh. Jadi, meski mengalami pengkondisian di dalam rumah, mereka tak kehilangan suasana interaksi antar sesama anak. 

Selisih usia dua tahun, menjadi tantangan bagi ketiga anaku untuk melatih emosi saat berinteraksi. Misalnya saat Nasywa (7 th) yang dibuatnya menangis oleh Dipta (5 th). Tangisan Nasywa harus meledak saat berebut kesempatan untuk memilih channel hiburan dengan kedua adiknya. Begitu juga tangisan Dipta yang tak jarang membuat aku dan istriku kehilangan kesabaran, saat berebutan mainan dengan Rara (2 th) 

Selama sepuluh hari terakhir ini, ketiga anaku pun nampak mulai menikmati kondisi di dalam rumah. Bahkan, sudah tidak terlihat lagi kebiasaan Dipta yang senantiasa nyusul bapaknya ke Mushola. Dipta semakin tenggelam bermain dan berinteraksi dengan Kak Nasywa dan adek Rara.

Diakhir tulisan ini, perenunganku sampai atas akan dampak pembatasan sosial kepada tumbuh kembang anak. Kondisi sosial apa yang akan terbentuk dari pembatasan sosial ini?

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar